About Me

Saturday, 16 July 2016

I Hear Your Voice (2)

“La, jangan diulangi lagi. Tidak seterusnya kau menjadi orang yang kuat. Tak ada salahnya sekali kau menjadi orang yang lemah. Kau juga butuh orang lain, La.” Nasihat dari Pras menutup pertemuan ku dengannya di suatu waktu. Sekali lagi, Pras seperti bunda saja. Apa yang salah dengan caraku hidup? Asal Pras tahu, aku adalah orang yang paling lemah di antara orang yang ia temui. Semua yang ada di luarku hanyalah tabir. Oh, aku begitu jujur. Mungkin itu alasan Pras peduli padaku akhir-akhir ini. Tapi aku tak pernah suka menjadi lemah. Bagaimana mungkin aku berburuk sangka pada Pras. Atau mungkin Pras.. Ah, sudahlah. Seorang gadis memang pandai berasumsi.

Pagi ini Pras berjanji mengantarku ke pusara bunda. Pras menjadi salah satu dari sedikit orang yang tahu kalau bunda sudah pergi. Namun, setelah dua jam menunggu Pras tak kunjung terlihat ataupun deru knalpot motor Pras juga tak terdengar. Oh, mungkin Pras lupa, atau ia tertidur, atau ia sengaja melupakanku. Wahai, Pras juga manusia. Sehingga kuputuskan untuk pergi dengan taxi. Sedikit kecewa, tentu. Pras. Bagaiamana mungkin ia menyita pikiranku beberapa waktu terakhir ini. Otakku terus membuat asumsi-asumsi kecil diluar kendali.

Dua jam kemudian, taxi yang kutumpangi berhenti tepat di pemakaman umum tempat pusara bunda. Bunda, apa kabar? Kalau saja aku boleh memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan bunda, tentu aku memintanya. Di duniaku sekarang, praktis aku seperti tak memiliki siapapun. Tinggal ayah. Satu-satunya tempat aku berpijak. Kemudian, bagaiamana aku harus menjalani hidupku dengan segala bentuk kelemahan yang sudah sejak lama bersarang di tubuhku. Pras salah besar. Jika aku hidup dengan kelemahanku aku tak akan bisa mencapai titik hidupku sekarang-selangkah menuju wisuda fakultas kedokteran di universitas ternama. Pras, aku tak siap dengan kelemahan, setidaknya bukan untuk yang kedua kali. Dan, air mata yang selama ini kudekam di tempatnya akhirnya tanpa peduli ia keluar begitu saja. Ya, begitu saja hingga membasahi wajahku.

“Bukan begitu, La! Kau gadis yang tangguh, kuat, hebat, tapi tak selamanya kau menutupi kelemahanmu dan mempersulit dirimu sendiri, meskipun kau sanggup mengatasinya. Dengerin La, setidaknya tidak kepadaku.”  Tukas suara itu-milik Pras tentunya-mengagetkanku. Ia memberikan sapu tangannya tapi aku terlalu naif untuk menerima. Aku segera menghapus dan memalingkan muka, ke arah yang berlawanan dengan arah asal suara yang halus itu.

“Kau selalu curang, Pras.” Balasku dengan sedikit sesenggukan. “Kau selalu membuatku selalu diliputi sisi lemahku. Kau membuatku berbicara dari aku yang sangat tak suka berbicara terlebih tentangku sendiri. Berbicara tentang gurauanku ataupun tentang mimpi-mimpiku, tapi aku suka.” Akhirnya semua itu terungkap.

“La, kau membuatku malu. Ah, pandai sekali kau ini menyembunyikan semuanya. Ternyata Laila bukan seperti gadis tangguh yang kukira. Eh, dia masih harus dikasih es krim sepertinya.” Sekali lagi Pras dengan gurauannya. Tapi aku suka.

“Kau jahat Pras. Kau kejam. Kau harus membelikanku es krim sekarang.” Protesku kepada Pras.

“La, kau benar-benar tega ya. Sepertinya aku sudah pantas masuk penjara, bagaimana tidak ketika kau bilang aku curang, jahat, dan kejam dalam satu waktu?” entah keberapa kalinya Pras berhasil membuat suasana hatiku lebih baik.

“Prasetya!” tukasku mendelik. Bunda, apa bunda yang meminta Tuhan untuk mengirimku seorang Pras? Apapun itu, aku percaya hal besar apapun dibalik kuasa Tuhan. Tak ada pertemuan yang sia-sia. Itu saja. Hal lain, yang sejauh ini belum pernah kutahu dan akhirnya Pras memberitahuku adalah bahwa ia memiliki-sejenis kekuatan atas kuasa Tuhan-yang aku penasaran dan aku tahu dengan jelas ketika ia bertanya padaku. “Bagaimana dengan ayah, La? Kau tak pernah bercerita.” Pertanyaan yang membuatku diam seribu bahasa. Kejadian yang tak akan pernah kuceritakan pada siapapun. Aku bungkam mendengar pertanyaan Pras. Sedikit demi sedikit otakku memutar kembali kejadian di masa-masa itu. Pras pun tak memburuku dengan pertanyaan yang lain, aku tahu ia menungguku menjawab.  Aku tak mau air mata ini kembali menderu wajahku. Aku menundukkan kepala. Terdengar Pras menarik napas dan bersiap memulai pembicaraan. Aku tak sanggup melakukan apapun, walau hanya sekadar meminta Pras berhenti bertanya. Semuanya sulit, aku tenggelam dalam lindu kelemahan. “Tak usah kau ceritakan La. Aku tahu. Saat –saat sulit itulah yang berhasil membawamu. Ayahmu akan bertahan, La. Beliau orang yang kuat. Kau pasti bisa membanggakannya.” Sontak aku kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Bagaiamana mungkin ia tahu? “Jangan bertanya aku tahu dari mana, La. Hanya saja aku tahu.” Bagaiamana mungkin ia menjawab pertanyaan yang bahkan tak terlontar dariku?

“Pras, jujur! Kau bisa membaca pikiran! Jika iya, sudah seberapa banyak yang kau baca dariku? Pras, tolong! Kau benar-benar jahat! Apa mungkin kau mengetahui semuanya sehingga kau iba denganku? Kenapa kau tak pernah bilang padaku?” tanpa kusadari, aku menyerbu Pras dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Maka dari itu kubiarkan kau tahu dengan sendirinya. Aku memang iba, tapi tak mudah dikatakan iba begitu saja. Aku tulus La! Kau orang yang berhasil menyita keinginanku untuk tidak membaca pikiran orang lain. Karena aku tahu, aku curang jika demikian. Tapi, padamu hal itu menjadi lain, La.” Jelas Pras. Tapi Pras, asal kau tahu saja aku suka kau membaca pikiranku.
“Kalau gitu, aku tak perlu berbicara padamu. Tinggal berpikir saja. Lumayan juga sih, tak banyak keluar energi.” Tukasku bercanda.
“Kamu keteraluan La.”
***
Sekalipun Pras bisa membaca pikiranku, Pras tak pernah tahu apa yang benar-benar kusembunyikan. Dan apa yang telah kututupi sejauh ini. Tak ada satu orang pun yang tahu, entah ayah ataupun Bi Ijah. Terlebih seorang Prasetya. Pras hanyalah satu dari segelintir orang yang sangat kuterima kedatangannya di kehidupanku, bahkan entah kenapa pintuku terlalu terbuka lebar untuknya. Pras, terima kasih dan maafkan aku.

Terik matahari siang itu, menyuguhkanku dengan serangan mendadak di kepalaku yang sudah jarang sekali hadir belakangan ini. Buku referensi yang kubawa dari perpus terlepas bgitu saja dari tanganku. Satu tekatku adalah, aku harus wisuda bulan depan. Tapi ada apa denganku hari ini? badanku pun tersungkur. Tak ada seorang pun yang melihatku disini. Karena aku suka sepi, kupilihlah jalan ini. Tiba-tiba nasihat Pras melayang di kepalaku. Pras benar. Dia selalu benar dari aku. Kuambil telepon genggamku dan mendial nomor Pras-satu-satunya orang yang aku punya alasan untuk menghubungi. Dua kali tak ada jawaban, sekali lagi aku pasrah. Aku tak sanggup. “Halo, La! Ada apa?” aku terdiam. Tak menjawab, tapi aku berpikir. “Tunggu disitu, jangan kemana-mana.” Pras  menutup telepon.

Beberapa jam berikutnya aku sudah ada di atas ranjang rumah sakit. Tentu hal yang sangat tak kuharapkan. Bunda kenapa aku rindu sekali sama Bunda? Ada Pras diujung sofa. Tertidur. “Pras.” Kataku lirih. Ia terbangun dan mendekat.

“Kenapa kau tak pernah bercerita padaku La? Apa kau meremehkanku menjadi orang yang bisa kau percaya?” Protes Pras.

“Hanya saja aku tak ingin bercerita, Pras.” Ini hal yang tak baik, beberapa menit kemudian aku merasakan dentuman keras di kepalaku, pandanganku memburam. Ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Pras, ada baiknya kau puya kemampuan membaca pikiran orang lain. Di keadaan seperti ini, aku hanya mampu berpikir. Tak kuasa mulutku berucap, sudah. Bunda, Laiala akan segera datang. Pras, terima kasih kau sudah mau hadir, singgah, dan menetap di kehidupan gadis yang sangat lemah seepertiku. Maaf aku belum bisa memenuhi janji apapun yang pernah kubuat, tapi aku selalu percaya kau adalah orang baik yang bisa kuandalkan, dan aku selalu mempercayaimu. Sepertinya, bundaku sangat berrterima kasih padamu, sudah peduli dengan anak gadisnya ini. Pras, kau orang yang baik. Bolehkah gadis lemah ini merepotkanmu sekali lagi, aku titip ayah Pras. Satu-satunya hartaku yang berharga. Kutitipkan segala rasaku padamu, tapi jangan pernah kau terima rasa sakitku. Maafkan aku, Pras. Asumsi-asumsiku tak ada yang tepat, karena Tuhan memanggilku lebih cepat. Abaikan saja gadis yang penuh asumsi ini. Tapi, terima kasih. Kau membuat kanvas hidupku dengan sangat indah. Berbahagialah Pras.

“Aku bisa penuhi apapun pintamu, La. Tapi aku tak tahu bagaiamana dengan berbahagia. Karena bahagiaku adalah kamu.”

~


Selesai sudah, cerpen iniiii. Entah apayang akan terjadi pada Pras dikehidupan yang selanjutnya. Semoga menghibur, walaupun sedikit semoga tetap mampu menginspirasi. Jangan lupa untuk terus menulis dan berkaryaa~ 

Friday, 15 July 2016

I Hear Your Voice

Berasa ngga asing sama judulnya? Iseng aja akunya ngambil dari salh satu judul drama korea yang diperanin sama si aktor terkenal Lee Jong Suk yang sekarang lagi sibuk syuting drama terbarunya 'W' duh, update banget yaa.. eh eh kok jadi ke Jong Suk sih, nih nih itu judul buat apa? Karena kuberhasil selesaikan satu cerpern-duh sampe typo- (cerpen) yang pasti karena inspirasi. Kepoin terus inspirasi inspirasi di kotak ini :) emmm..yang satu ini inspirasi dari seseorang yang suka datang dan pergi beberapa saat menetap di hati yang kemudian memberi arti-eh eh apalagi deh- yang pasti kisah ini datang dari seseorang yang menginspirasi. Siiiaaat tokoh, latar, kejadian dalam cerpen disini hanyalah fiktif belaka :D Happy Enjoying :)


Semburat merah di langit sudah menyembunyikan sang bintang terbesar. Menyisakan kehangatan-sisa-sisa panas dari cahaya matahari-seharian ini. Peluh sudah mulai berhenti meluruh. Tak lagi seperti tadi siang, ketika keringat menetes deras di setiap langkahku. Bisa dipastikan, selepas maghrib pun aku belum sampai di tempat tujuanku. Ah, entah sudah berapa kilo meter perjalanan yang kutempuh dua hari ini. Dan benar, selesai waktu maghrib belum kutemukan ujung jalan ini. Ujung jalan ini menjadi tujuanku, jalan yang cukup lebar dengan lampu jalanan yang sedikit temaram kerlipnya. Aku sendiri. Kadang aku berpikir, aku gila. Bagaimana mungkin aku-seorang gadis remaja tanggung- berjalan entah kemana, sendiri, kadang tanpa tujuan. Kadang juga aku begitu bodo amat sama pikiran orang lain. Eh, emang orang lain mikirin aku? Menjadi pejalan kaki dan penikmat jalanan serta hiruk pikuknya adalah favoritku. Ah, hari semakin malam. Dan sebentar lagi malam semakin larut. Haruskah ujung jalan temaram itu benar-benar kucapai? Sejenak, keraguan melintas. 

Begitu adanya-manusia dengan segenap keragu-raguan. Akhirnya kuputuskan berhenti tepat di depan musholla daerah itu. Tempat sholat ini kecil, tapi masyarakat sekitar masih berusaha memenuhi panggilan dari Tuhan. Syukur dalam hati masih ada situasi seperti ini, mengingat sepertinya kiamat sudah dekat. Oh! Pikiran ini kembali tersita oleh-lagi-lagi-hiruk pikuk kehidupan manusia. Lamat-lamat mataku menatap, satu-satu kuperhatikan. Haruskah manusia terus beraktivitas? Dan banyak hal lain yang lalu lalang di pikiranku-gadis remaja tanggung. Sejurus kemudian dering telpon genggamku membuyarkan aktivitas kecil otakku. Masih ada saja baterainya. Kukira ia sudah tak bernyawa, jadi kubiarkan begitu saja di dalam tasku-entah di sebelah mana ia-karena aku bingung dan terus mengaduk-ngaduk isi tasku. Sebelum akhirnya tersambung dengan orang yang ada di seberang sana dan....

Hai, La! Kamu dimana? Bagaiaman kabarmu dalam dua hari ini? Kenapa dua hari ini tak pernah sekalipun balas smsku? Dan sudah 12 kali ku meneleponmu! ...
Persis. Itu suara seseorang di balik teleponku.

Eits..eitss.. sabar-sabar. Bagaimana mungkin aku menjawabnya jika kau terus memberondongku? Pras, apa ini benar Pras?
Tanyaku kemudian.

Kenapa kau harus bertanya? Apa semudah itu melupakanku? Hanya alam dua hari La!
Pras tak terima. Ia memprotes.

Kenapa kau harus bertanya dimana aku, bagaiamana aku, dan apakah aku melupakanmu, jika tanpa kau bertanya pun kau tahu jawabannya. Kau selalu curang Pras! Kau yang akan selalu membuatku kalah! Kau jangan bercanda Pras..
Aku pun tak terima. Protesku kembali.

Dan..kau yang selalu membuatku bermain curang, La! Sekarang kau dimana? Kau pasti tidak sedang di asrama kan? Hmm..tunggu aku di tempatmu, jangan sejengkal pun kau berani melangkahkan kakimu La! Daerah itu daerah rawan, kau ini! Bagaiamana mungkin kau berani-lagi-lagi-sendiri? Ah, La! Kau...

Tukas Pras tak menyelesaikan kalimatnya dan segera menutup saluran telepon. Ah, Pras! Kau sudah seperti bundaku. Pras-Prasetya Abimana-entahlah ia siapa. Ia hanya tiba-tiba datang di kehidupan gadis tanggung sepertiku. Aku, gadis tertutup, banyak menuntut dan sekali cerewetnya  tak terturut, bisa dibilang aku gadis penuh komitmen tapi seringkali tak bisa konsisten, apalagi setelah mengenal orang yang satu itu. Gadis dominan sisi Plegmatis, tapi juga sanguinis. Oh, sudah-sudah. Terlalu banyak informasi. Biarlah ceritanya berlanjut pada seorang Pras. Bagaimana aku harus mengisahkan seorang Pras? Dia menjadi salah satu kompleks yang sekarang bersarang di pikiranku-entah apa yang kupikirkan pasti bersambung pada Pras. Iya, Pras! Laki-laki itu.

“Laaa!!” seru Pras dari seberang jalan. Bola mataku tergerak mengamati sosoknya. Beberapa langkah kemudian ia mendekat, dan mulailah sejenis reaksi kimia-entah reaksi apa-berlangsung di sekujur tubuhku. Hanya  dalam dua hari saja aku tahu aku benar-benar merindukan sosoknya. Tapi tak pernah ada secuil pun keberanian untuk mengungkapnya. Ia terpendam dalam, kemudian mengakar begitu saja. “Hai, Laa! Kenapa kau terus melamun, aku memanggilmu dari tadi.” Sapanya ketika jarak kita sudah dekat.

“Ah, kau selalu curang. Pada akhirnya aku yang harus berbicara, bercerita dan kau pun terhibur oleh ceritaku karena sesuai dengan yang kau tahu.” Protesku lagi-entah yang keberapa. Pras sudah sangat terbiasa.

“Kau memikirkanku!” sudah pasti jawabannya benar.

“Aku tak ingin menjawabnya. Aku pergi!” aku beranjak, menaikkan ransel ke punggung dan mulai melangkah, tapi tentu Pras menahanku.

“Jangan mencobaku, La! Kau tak akan pernah sampai hati melakukan itu. Jelas-jelas kau menginginkan...”

“Oke-oke, Pras! Aku kalah. Kau menang. Sekarang apa yang kau mau?”  aku menyela kalimat  Pras. Aku tak ingin kalimatnya berlanjut, karena hal itu bagaikan katalis yang hanya akan membuat sejenis reaksi kimia aneh di tubuhku semakin cepat. Oh, tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Aku hanya akan berlari meninggalkan Pras, padahal aku tahu berlari hanyalah hal bodoh di hari yang semakin dingin dan gelap ini. Kesempatan yang bagus Pras datang. Aku hanya tidak akan pulang jalan kaki, karena perjalanan dua hari sudah cukup baik membuat kakiku bengkak sana-sini. Aku sedikit terpincang berjalan ke arah Pras.

“Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik, jelas kakimu tak baik-baik saja La.” Gerutu Pras. Setelah menggurutu pasti dia akan mengeluarkan jurus andalannya dengan sedikit menggodaku kadang sedikit keterlaluan. “Sini, kugendong. Eh nona manis yang satu ini tahan banting. Kenapa aku bisa lupa?” itu dia! Candaan ala Prasetya.

“Iya, Pras. Aku selalu tangguh.” Akhirnya perjalananku-entah perjalanan apa-terselesaikan di seperempat malam dengan pulang ke rumah di boncengan sepeda motor butut Pras yang suara knalpot benar-benar seperti ingin ditendang. Berisik. Bahkan suaranya terdengar sampai radius beberapa kilometer. Jalannya bahkan seperti siput-entah ini karena Pras yang membawanya atau bagaiamana. Dan payahnya, aku harus berkali-kali membenahi posisi dudukku. Dan yang lebih payah lagi, Pras sangat menyayangi motor bututnya. Ah, memang Pras.

“Berhenti mengutuki La! Apalagi soal motorku. Atau kau mau kuturunkan disini? Jelas tidak. Ah, aku juga yang menjawab pertanyaanku. Dan lagi, ia tak seperti siput. Ia bahkan bisa seperti jet-ah tak mungkin juga- yang jelas kenapa aku menyetir begini, karena bisa jadi kau jatuh La. Oh, bukan-bukan aku hanya ingin lebih lama menikmati malam ini bersamamu.” Itu dia yang akhirnya keluar dari seorang Pras. Bercandanya serius. Aku ingin menimpuknya dengan sesuatu saat itu juga, tapi tak kulakukan. Otakku masih loading mencerna kalimatnya. Akuu..

Selanjutnya, hening. Motornya melaju begitu saja menembus malam yang gelap dan dingin. Hanya begitu saja. Dan begitu saja.
***


Hmm..tobecontinued-- yaap. Nantikan sajaa kelanjutannya yaa :) 





Friday, 8 July 2016

Senandung Elegi

Sakit!
Tatkala daku tahu
Dikau bak siang ditelan malam
Oh, bukan bukan
Dikau entah dimana, menghilang tanpa bekas
Oh, bukan bukan
Nampaknya luka itu membekas
Oh, bukan bukan
Entah luka atau apa
Yang pasti namamu terukir jelas
Ah senandung elegi itu memuakkan
Membuat diri semakin nista
Dikau hilang ditelan gerhana
Oh, bukan bukan
Dikau hilang bersama senja
Menyisakan kehangatan yang menyiksa
Nista nista
Hanya caci maki diri tersisa
Bergelut dengan sajak syair elegi
Tak lain tak bukan
Luka itu menganga yang kemudian disiram cuka
Kata kata tiada makna, hampa
Ah, apa daya
Mungkin tak ada lagi sudi untuk berlabuh
Atau sudah tak ada lagi tambatan untuk jangkarmu
Ah, sudahlah
Kisah ini nista 
Tapi tak ada sedikit pun dusta
Beginilah daku dengan segala kenistaanku
Tak pernah bisa sempurna
Tanpa ada indah rangkaian kata
Oh, bukan bukan
Rangkaian kata itu indah
Tapi apa?
Hampa!
Dikau tak lagi ada acuh
Karena semua bersisa peluh
Dan juga keluh atas sesak dengan alasan tiada
Kanvas pun telah pudar tanpa warna
Tapi tetap tak menuai kesimpulan makna
Hanya saja dikau seperti telah lupa
Bahwa telah kau beri makna seluas samudra 
Sedalam palung dunia
Palung luka , rindu canda tawa
Oh, bukan bukan 
Palung luka yang perih
Palung rindu yang sesak
Palung canda yang pengap
Serta tawa yang mengundang dahaga
Dikau mencukupkan
Tapi kau tak pernah tahu seberapa cukup
Sebagai rindu dan segala rasa hanya bisa mengatup ngatup
Entah sampai kapan berpendar atau akan meredup
Menanti suratan si takdir hidup

PAMIT #Bagian 1

Bersua kembali setelah sekian lama. Hehe. Selamat malam, karena saya menulis ini di malam hari ditemani segelas chocolate latte dan ch...