About Me

Sunday, 17 April 2016

Ilmu di Setiap Langkah Kaki

"Ternyata belajar di bidang ini susah"
"Ya, mana ada belajar yang nggak susah. Kalau mau nggak susah ya nggak usah belajar."
"Iya sih, tapi..."
"Tapi apa? Kau harus bisa membuat dirimu bertahan. Tumbuhkan motivasi dari dalam diri dan bangun juga dari luar."

Secuil perckapan, di sela-sela langkah kaki. Bisa-bisanya kata-kata itu keluar dari mulutku. Sok banget. Emang yang ngomong udah nglakuin? Sepertinya belum. Bahkan serasa kacau, hari-hari di akhir semester ini. Astaghfirullah :( Motivasi. Btw, Dimana kamu? Bahkan menumbuhkan motivasi diri saja masih susah, tapi berani ngomongin orang lain. Ya, lebih baik daripada aku terpuruk dan orang di sekitarku juga sama terpuruknya . Jangan! Bagaimana, Indonesia maju kalau generasinya terpuruk? Cukup aku. Hah, siapa juga yang mau terpuruk? Emang dasar setan aja gangguin terus. Lah, kok mau digangguin? Oke, berarti harus bangkit. Lah emang betul. Bangkit. Sudah lupakah trimotto Insan Cendekia? Trimotto yang sudah tertanam dalam-dalam. GO!FIGHT!WIN. Maju dulu, perangi, dan kamu akan menang. Tiga kata yang seolah jadi cambuk bagi para cendekiawan, mengantarkan melalui aral yang melintang, dari SP, UTS, UAS, UN, SBMPTN, drop out, dan banyak hal lain. Tiga kata sakral, yang senantiasa ada di meja belajar, dinding, buku, bahkan selalu ada dalam semangat para cendekiawan. Ayo maju-maju, ayo maju. Go, be on the front, Fight every single step and get your Win.

6 perkara yang sangat sarat akan makna menuntut ilmu, tentu masih tertanam bukan?
Cerdas, keinginan kuat, sabar, uang saku, guru, waktu yang lama.
"Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi" 
Kalau ngga mau susah, yaudah ngga usah belajar. Makan tuh, omongan sendiri. 

Jiwa dan Rasa Sakitnya

Jiwa yang sakit
Paling sakit ketika jauh dari kalam-Nya
Ketika ayat-ayat itu seperti menguap begitu saja
Satu huruf, satu ayat, dua ayat, hingga satu laman bahkan berlman-laman
Kemana saja?
Siapa yang kemana?
Kamu! Kau buat komitmen. Tapi menjaganya? Tak becus! Pengecut!
Kau sudah dilupakan olehnya. Sakit bukan?
Apakah dia-AlQuran-masih mau berteman denganmu?
Tak ada yang suka diingkari
Mana mungkin kita bertahan, jika kita diingkari begitu saja?
Kembali, kembali, kembali
Buat dia kembali

Jeritan Hati Yang Bergulat

Seperti susah terlerai
Dua kutub hati yang tak bisa bersatu
Seperti tak ada kompromi
Dua kutub hati yang tak bisa bersatu
Benar-benar bergulat, ketat, kuat
Hingga divonis sakit, kronis, bengis
Resah, gundah, lelah, payah
Apa-apaan?
Sakit hingga dimakan waktu
Relakan hati ini terbelit
Terbelit sakit hati melilit
Cukup sudah sakit membelit
Lupakan hati yang bergulat
Tak ada lagi alasan tersesat

Friday, 15 April 2016

SALAM ITU

SALAM ITU : Salam Terakhir di Penghujung Hari

Ketika semua kisah ini dimulai, terbersit sedikit ketakutan bahwa akan ada sesuatu yang berubah. Tentu hal seperti ini tak sekalipun ada dalam list hidupku, namun aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga menginginkannya. Sebuah kewajaran bukan? Ketika ada setetes embun yang mulai menyejukkan. Tapi, aku juga tak bisa memungkiri, bahwa ini tidak sesuai. Sebersit ketakutan itu perlahan terbukti, walaupun masih bisa teratasi tapi mau tidak mau hal itu pasti terjadi. Aku hanya tak mau melanggar prinsipku. Sebagai muslimah yang senantiasa berusaha berhijrah, ini benar-benar tak boleh berlanjut. Tapi sisi lain diri ini memungkiri. Banyak hal bertentangan di benak. Untuk apa sebuah kepastian kalau pada akhirnya tidak pernah terikat. Namun, sisi lain berkata kalau 'ia' juga harus dicari dan dipertahankan. Ah, semua ini membingungkan. Tak elak, pilu dan kalut pun menghampiri. 

Tak ingin ini berlanjut pada jalan yang tak diridhai-Nya, tapi juga tak ingin komunikasi ini terputus hingga bahkan terjadi permusuhan. Ingin diri ini hanya satu, tak ada pihak yang tersakiti. Aku tak ingin jatuh, ketika 'ia' hanya ingin bermain dan aku juga tak ingin ia jatuh ketika ia benar-benar serius. Intinya, tak boleh ada pihak manapun yang tersakiti. Jalan masih panjang. Proses panjang pun masih harus dialaui. Untuk apa sebuah kepastian, jika Sang Maha Pemberi Kepastian bahkan belum 'Kun!" Bukan hal penting sebuah kepastian sekarang ini. Tapi usaha untuk memperbaiki diri masing-masing adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Sama-sama memandang ke depan, dan saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Tak ada kepastian yang pasti, hanya Tuhan lah Maha Pemberi Kepastian. Semua akan datang, dan semua akan indah pada waktunya. Sekali lagi, memperbaiki diri masing-masing adalah hal terpenting saat ini. Karena "Ath Thayyibu Lith Thayyibaat", mungkin usaha yang lain yang bisa dilakukan adalah mengikatnya dalam rangkaian doa yang senantiasa terpanjat kehadirat-Nya.

Kendatipun ia berkata kutub utara dan selatan hanya mampu beriringan, bahkan kita tak pernah tahu bahwa Tuhan Maha Kuasa menyatukan kedua kutub itu :)

Wednesday, 13 April 2016

Lantunan Terakhir di Penghujung Fajar

AKHIR DARI BAIT YANG TERLUKIS

Tersadar bahwa lukisan itu sudah tersurat
Tersadar bahwa kanvas itu setidaknya berwarna
Tak pernah tahu kapan lukisan itu akan berubah
Tak pernah tahu kapan kanvas itu akan kosong
Tak elakkan semuanya pun tercurah
Pula, ia terlukis dengan indah
Indah dengan suka dan tawa
Tetesan embun terasa sangat segarnya
Pula, seberkas cahaya menyeruakkan sinarnya
Begitu lihai semua itu terlukis
Tak relakan semuanya tergadai
Oleh gelapnya angan dan gulitanya pikiran
Syukur senantiasa di hati
Untuk setetes embun lagi
Untuk secercah cahaya lagi
Karena akhir selalu menjadi misteri

The Woman

The Woman : Istimewanya Seorang Wanita Sholehah

"Ketika menjadi seorang anak, maka mampu mengangkat derajat ayahnya"
"Ketika menjadi seorang istri, maka ia mampu melengkapi agama suaminnya"
"Ketika menjadi seorang ibu, maka surga ada di bawah telapak kakinya"

Tentu selalu menjadi harapan bagi para muslimah untuk bisa menjadi wanita sholehah. Lalu, bagiamana? Tidakkah harus ada tindakan yang tepat? Yes! Absolutley. Menata niat tentu menjadi hal paling mendasar yang dibutuhkan. Kemudian niat akan menyokong prinsip dan prinsip akan menyokong tindakan. Tanamkan dulu, kemudian resapi dan lakukan. Berhubung penulis masih menjadi poin pertama, maka gimana sih jadi anak yang baik yang mampu mengangkat derajat ayahnya? Belajar yang rajin, belajar dulu sekarang mah.. belajar belajar belajar. Serap sebanyak banyaknya ilmu, dari dosen ataupun di organisasi. Wujudkan mimpimu yang tentu menjadi sebuah harapan bagi orang tua untuk melihat anaknya sukses. Satu kata, SUKSES. Yuk! Terus berjuang. Kalau khusus buat penulis nih, hati-hati sama godaan-godaan setan yaa.. Banyak tentunya, dan tak pernah berhenti. Hal lain adalah tetap kukuh jaga prinsip, Say No to Pacaran sampai halal. Hehehe. Kemudian untuk mempersiapkan poin dua dan tiga, yaaa poin satunya harus sungguh-sungguh ngejalaninnya. Semangat untuk terus berhijrah  menjadi lebih baik :)

Sunday, 10 April 2016

Si Kece Gramineae : Bambu

Belajar falsafah kehidupan yang berharga dari kehidupan pohon bambu :D
Memiliki akar yang sangat kuat tertanam di tanah. Sebagai latar belakang keluarga rumput-rumputan,perlu lima tahun untuk pertumbuhan akar barulah bambu akan muncul-Belajar membutuhkan waktu lama untuk mencapai tujuan, supaya ilmu kuat tertanam
Tanaman rumput spektakuler, bisa tumbuh hingga 30 meter-Bagaimanapun latar belakang kita, lebih SPEKTAKULER kalau kita bisa menjadi yang berbeda. Terus ekspresikan potensi diri.

Batangnya mampu bergoyang bersama terpaan angin kencang, namun dia tak pernah tumbang, karena punya akar yang kuat-FLEKSIBELITAS :D fleksibel aja yuk, hadapi masalah. Jangan cuma diomongin, tapi cari jalan keluarnya. Tidak terlalu gusar, tapi mampu menjadikannya pelajaran.

Anggota keluarga gramineae yang spesial. Terdiri dari sejumlah batang yang tumbuh bertahap. Mulai rebung, batang muda, dan batang dewasa, batang berbuku dan beruas tapi berdinding keras, cocok buat arsitektur. Selain itu, anggota gramineae ini hampir keseluruhan hidupnya dapat dimanfaatkan-SPESIAL dan Menebar MANFAAT bagai lingkungan sekitar, karena "Khairun Naas Anfa'uhum Linnaas"

‪#‎sph‬ ‪#‎offeringA‬ ‪#‎PendBiologiUM‬ ‪#‎Quotekeren‬ ‪#‎terusmenginspirasi‬
‪#‎semangatbelajar‬ :) ‪#‎savenature‬

Harus Jadi Guru

Hal sekecil apapun pasti mampu menginspirasi :D
Terima kasih untuk siapapun yang merasa terlibat dalam kisah berikut.
"Harus Jadi Guru!"
Beberapa waktu lalu, bahkan hingga sekarang klimat itu masih menggelayuti pikiran. Entah kenapa, tiba-tiba jiwa ini merasa kembali tergugah. Kemana saja selama hampir dua semester ini? Sampai-sampai titah mulia itu terlupa. Sebelum seseorang menyampaikan kalimat itu, sudah terlebih dahulu sosok yang menjadi tempat bergantung-Ayah dan Ibu-bertitah. Terekam dengan jelas di memori yang mulai reot ini, walaupun kala itu hanya melalui pesawat telepon yang membantuku terhubung dengan mereka di seberang pulau sana (kala itu). "Semuanya baik, ada kekurangan ada kelebihan, tapi menjadi seorang pengajar adalah kemuliaan". Sepertinya, (beberapa waktu lalu) akulah sungai yang mengalir tanpa tahu arah aliran yang tepat. Tapi (terima kasih), karena di sela peliknya hidup dan kehidupan, seseorang telah mengetuk kesadaranku yang mulai melayang entah kemana.
Guru-Pengajar. ("Beraaat") Hahaha :D Ya!

‪#‎GO‬!PendidikanIndonesia ‪#‎SemangatBelajar‬ ‪#‎SemangatMengajar‬ ‪#‎terusMenginspirasi‬ ‪#‎TerimaKasih‬-> buat yang sudah menginspirasi :)
Sampaikan Walau Satu Ayat :D Ayat yang bagaimana? Ayat yang kita mengerti pasti, kita pahami pasti, kita mampu amalkan.


Sebenarnya karena ada seseorang sih, sejenak ia mengingatkanku akan hal itu. Aku benar-benar bersyukur atas kehadirannya, setidaknya Allah masih menyayangiku dengan mengirimkan seseorang itu. 

Saturday, 9 April 2016

Bisikan di Ujung Senja

"Mau ngga mau aku harus memajukan kaum muslimin!!" dengan lantang ia meneriakkan kalimat itu. Sedikit mewarnai penghujung senjaku hari itu. Matanya berbinar - binar. Semangat itu nyata adanya. Aku tahu ia mulai tersentak, karena bahkan kalimatnya membuatku tersentak hingga membuatku seolah terbangun 'kemana saja aku selama ini?'
Seolah olah selama ini mata dan hatinya tertutup kemudian ia tersadar oleh sesuatu. Entah bagaimana, itu pun menyadarkanku. Hei, mungkin ia tak pernah menyadari bahwa bara semangat itu selalu ada pada setiap muslim. Namun, benar benar dibutuhkan penyulut yang dahsyat hingga bara semangat itu menyala terang hingga sulit dipadamkan. Terima kasih untuknya. Inilah indahnya ilmu. Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan ilmu pun bahkan senantiasa ada di sekitar kita. Semangat 

Gimana?

Ketika Semuanya Terkisah

What a Day!! Should I turn back? Sampai detik manakah aku harus berbalik? Hahaha...jika aku sanggup. Bahkan aku tak pernah tahu apakah aku sanggup hanya untuk menatap masa depanku. Semuanya begitu rumit. Terlalu rumit bagi sebuah kisah seorang remaja yang harus bersiap menapaki kedewasaan. Apakah memang harus serumit ini? Bukan hanya rumit bahkan mereka juga semu. Aku memang tak pernah tahu kapan perasaan itu ada. Yang aku tahu perasaan itu tak pernah sirna walau waktu banyak berlalu. Bahkan aku juga tak tahu dari mana kekuatan itu sehingga aku bisa bertahan hingga usia ini. Biarlah perasaan itu terpendam. Kuharap ia tak pernah protes terhadapku yang bersikeras memendamnya. Yang kutahu semua akan menjadi lebih rumit jika itu terungkap. Perasaan itu terungkap. Biar saja semua mengalir apa adanya, hingga semua indah pada waktunya. “Hey! sampai kapan kau terus seperti ini?” tanya Kania tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Apanya yang seperti kau maksud Kani?” tanyaku balik berpura-pura tak mengerti. “Memang susah bicara denganmu Key. Bosan aku jika kau terus berdalih.” gerutu Kania teman satu flatku. “Hmmm...gimana ya Kani, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Kau hanya terus mendesakku tanpa memberi saran. Semua hanya masalah waktu.” jawabku. “Waktu lagi, sampai kapan kau mau terus-terusan digerogoti gelar akademis itu? Jika saja...” Kania mulai mengandai. Dan sekali ia mengandai bisa saja ia tak berhenti. “Hmmm..mulai lagi kan. Tak baik terus berandai-andai Kania. Kau tahu itu. Sudahlah Kani, bila waktunya tiba tentu akan tiba. Kau hanya dukung aku aja ya, aku juga akan terus mendukung dan terus berdoa untukmu. Semoga pernikahanmu bulan depan berjalan lancar.” jelasku. “Amiiin.” balas Kania. “Tuh kan, ujungnya pasti aku yang harus kalah darimu Bu Insinyur.” To be continued-By: Najatul Ubadati. Special note for my beloved Dewi Q. A'yun

PAMIT #Bagian 1

Bersua kembali setelah sekian lama. Hehe. Selamat malam, karena saya menulis ini di malam hari ditemani segelas chocolate latte dan ch...