Friday, 15 July 2016

I Hear Your Voice

Berasa ngga asing sama judulnya? Iseng aja akunya ngambil dari salh satu judul drama korea yang diperanin sama si aktor terkenal Lee Jong Suk yang sekarang lagi sibuk syuting drama terbarunya 'W' duh, update banget yaa.. eh eh kok jadi ke Jong Suk sih, nih nih itu judul buat apa? Karena kuberhasil selesaikan satu cerpern-duh sampe typo- (cerpen) yang pasti karena inspirasi. Kepoin terus inspirasi inspirasi di kotak ini :) emmm..yang satu ini inspirasi dari seseorang yang suka datang dan pergi beberapa saat menetap di hati yang kemudian memberi arti-eh eh apalagi deh- yang pasti kisah ini datang dari seseorang yang menginspirasi. Siiiaaat tokoh, latar, kejadian dalam cerpen disini hanyalah fiktif belaka :D Happy Enjoying :)


Semburat merah di langit sudah menyembunyikan sang bintang terbesar. Menyisakan kehangatan-sisa-sisa panas dari cahaya matahari-seharian ini. Peluh sudah mulai berhenti meluruh. Tak lagi seperti tadi siang, ketika keringat menetes deras di setiap langkahku. Bisa dipastikan, selepas maghrib pun aku belum sampai di tempat tujuanku. Ah, entah sudah berapa kilo meter perjalanan yang kutempuh dua hari ini. Dan benar, selesai waktu maghrib belum kutemukan ujung jalan ini. Ujung jalan ini menjadi tujuanku, jalan yang cukup lebar dengan lampu jalanan yang sedikit temaram kerlipnya. Aku sendiri. Kadang aku berpikir, aku gila. Bagaimana mungkin aku-seorang gadis remaja tanggung- berjalan entah kemana, sendiri, kadang tanpa tujuan. Kadang juga aku begitu bodo amat sama pikiran orang lain. Eh, emang orang lain mikirin aku? Menjadi pejalan kaki dan penikmat jalanan serta hiruk pikuknya adalah favoritku. Ah, hari semakin malam. Dan sebentar lagi malam semakin larut. Haruskah ujung jalan temaram itu benar-benar kucapai? Sejenak, keraguan melintas. 

Begitu adanya-manusia dengan segenap keragu-raguan. Akhirnya kuputuskan berhenti tepat di depan musholla daerah itu. Tempat sholat ini kecil, tapi masyarakat sekitar masih berusaha memenuhi panggilan dari Tuhan. Syukur dalam hati masih ada situasi seperti ini, mengingat sepertinya kiamat sudah dekat. Oh! Pikiran ini kembali tersita oleh-lagi-lagi-hiruk pikuk kehidupan manusia. Lamat-lamat mataku menatap, satu-satu kuperhatikan. Haruskah manusia terus beraktivitas? Dan banyak hal lain yang lalu lalang di pikiranku-gadis remaja tanggung. Sejurus kemudian dering telpon genggamku membuyarkan aktivitas kecil otakku. Masih ada saja baterainya. Kukira ia sudah tak bernyawa, jadi kubiarkan begitu saja di dalam tasku-entah di sebelah mana ia-karena aku bingung dan terus mengaduk-ngaduk isi tasku. Sebelum akhirnya tersambung dengan orang yang ada di seberang sana dan....

Hai, La! Kamu dimana? Bagaiaman kabarmu dalam dua hari ini? Kenapa dua hari ini tak pernah sekalipun balas smsku? Dan sudah 12 kali ku meneleponmu! ...
Persis. Itu suara seseorang di balik teleponku.

Eits..eitss.. sabar-sabar. Bagaimana mungkin aku menjawabnya jika kau terus memberondongku? Pras, apa ini benar Pras?
Tanyaku kemudian.

Kenapa kau harus bertanya? Apa semudah itu melupakanku? Hanya alam dua hari La!
Pras tak terima. Ia memprotes.

Kenapa kau harus bertanya dimana aku, bagaiamana aku, dan apakah aku melupakanmu, jika tanpa kau bertanya pun kau tahu jawabannya. Kau selalu curang Pras! Kau yang akan selalu membuatku kalah! Kau jangan bercanda Pras..
Aku pun tak terima. Protesku kembali.

Dan..kau yang selalu membuatku bermain curang, La! Sekarang kau dimana? Kau pasti tidak sedang di asrama kan? Hmm..tunggu aku di tempatmu, jangan sejengkal pun kau berani melangkahkan kakimu La! Daerah itu daerah rawan, kau ini! Bagaiamana mungkin kau berani-lagi-lagi-sendiri? Ah, La! Kau...

Tukas Pras tak menyelesaikan kalimatnya dan segera menutup saluran telepon. Ah, Pras! Kau sudah seperti bundaku. Pras-Prasetya Abimana-entahlah ia siapa. Ia hanya tiba-tiba datang di kehidupan gadis tanggung sepertiku. Aku, gadis tertutup, banyak menuntut dan sekali cerewetnya  tak terturut, bisa dibilang aku gadis penuh komitmen tapi seringkali tak bisa konsisten, apalagi setelah mengenal orang yang satu itu. Gadis dominan sisi Plegmatis, tapi juga sanguinis. Oh, sudah-sudah. Terlalu banyak informasi. Biarlah ceritanya berlanjut pada seorang Pras. Bagaimana aku harus mengisahkan seorang Pras? Dia menjadi salah satu kompleks yang sekarang bersarang di pikiranku-entah apa yang kupikirkan pasti bersambung pada Pras. Iya, Pras! Laki-laki itu.

“Laaa!!” seru Pras dari seberang jalan. Bola mataku tergerak mengamati sosoknya. Beberapa langkah kemudian ia mendekat, dan mulailah sejenis reaksi kimia-entah reaksi apa-berlangsung di sekujur tubuhku. Hanya  dalam dua hari saja aku tahu aku benar-benar merindukan sosoknya. Tapi tak pernah ada secuil pun keberanian untuk mengungkapnya. Ia terpendam dalam, kemudian mengakar begitu saja. “Hai, Laa! Kenapa kau terus melamun, aku memanggilmu dari tadi.” Sapanya ketika jarak kita sudah dekat.

“Ah, kau selalu curang. Pada akhirnya aku yang harus berbicara, bercerita dan kau pun terhibur oleh ceritaku karena sesuai dengan yang kau tahu.” Protesku lagi-entah yang keberapa. Pras sudah sangat terbiasa.

“Kau memikirkanku!” sudah pasti jawabannya benar.

“Aku tak ingin menjawabnya. Aku pergi!” aku beranjak, menaikkan ransel ke punggung dan mulai melangkah, tapi tentu Pras menahanku.

“Jangan mencobaku, La! Kau tak akan pernah sampai hati melakukan itu. Jelas-jelas kau menginginkan...”

“Oke-oke, Pras! Aku kalah. Kau menang. Sekarang apa yang kau mau?”  aku menyela kalimat  Pras. Aku tak ingin kalimatnya berlanjut, karena hal itu bagaikan katalis yang hanya akan membuat sejenis reaksi kimia aneh di tubuhku semakin cepat. Oh, tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Aku hanya akan berlari meninggalkan Pras, padahal aku tahu berlari hanyalah hal bodoh di hari yang semakin dingin dan gelap ini. Kesempatan yang bagus Pras datang. Aku hanya tidak akan pulang jalan kaki, karena perjalanan dua hari sudah cukup baik membuat kakiku bengkak sana-sini. Aku sedikit terpincang berjalan ke arah Pras.

“Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik, jelas kakimu tak baik-baik saja La.” Gerutu Pras. Setelah menggurutu pasti dia akan mengeluarkan jurus andalannya dengan sedikit menggodaku kadang sedikit keterlaluan. “Sini, kugendong. Eh nona manis yang satu ini tahan banting. Kenapa aku bisa lupa?” itu dia! Candaan ala Prasetya.

“Iya, Pras. Aku selalu tangguh.” Akhirnya perjalananku-entah perjalanan apa-terselesaikan di seperempat malam dengan pulang ke rumah di boncengan sepeda motor butut Pras yang suara knalpot benar-benar seperti ingin ditendang. Berisik. Bahkan suaranya terdengar sampai radius beberapa kilometer. Jalannya bahkan seperti siput-entah ini karena Pras yang membawanya atau bagaiamana. Dan payahnya, aku harus berkali-kali membenahi posisi dudukku. Dan yang lebih payah lagi, Pras sangat menyayangi motor bututnya. Ah, memang Pras.

“Berhenti mengutuki La! Apalagi soal motorku. Atau kau mau kuturunkan disini? Jelas tidak. Ah, aku juga yang menjawab pertanyaanku. Dan lagi, ia tak seperti siput. Ia bahkan bisa seperti jet-ah tak mungkin juga- yang jelas kenapa aku menyetir begini, karena bisa jadi kau jatuh La. Oh, bukan-bukan aku hanya ingin lebih lama menikmati malam ini bersamamu.” Itu dia yang akhirnya keluar dari seorang Pras. Bercandanya serius. Aku ingin menimpuknya dengan sesuatu saat itu juga, tapi tak kulakukan. Otakku masih loading mencerna kalimatnya. Akuu..

Selanjutnya, hening. Motornya melaju begitu saja menembus malam yang gelap dan dingin. Hanya begitu saja. Dan begitu saja.
***


Hmm..tobecontinued-- yaap. Nantikan sajaa kelanjutannya yaa :) 





1 comment:

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...