About Me

Tuesday, 21 May 2019

PAMIT #Bagian 1

Bersua kembali setelah sekian lama. Hehe. Selamat malam, karena saya menulis ini di malam hari ditemani segelas chocolate latte dan chicken rice bowl. Ah, tak lupa juga, ditemani hiruk pikuk kendaraan di jalan depan saya. I really have my q-time with myself right now. Sangat menyenangkan, ketika bisa menjadi diri sendiri dan mengenali diri lebih dalam. Okay, tentu tidak mau laman ini akan menjadi buku diary saya lebih lanjut bukan? Hehehe. So, what’s topic now?  Cerpen hadir kembali! Saya sedang terobsesi dengan Gerbera dari Asteraceae iniii!! Semoga pada suka!


Sumber :
“PAMIT”
#Part1

“Kamu ini lucu, ya! Umumnya, orang-orang akan menggunakan lilin atau foto. Nah, kamu? Bunga.” Aku sedikit bergumam, ia terbangun oleh gerak gerik teman sekamarnya, Rumaisa. “Hei, jangan nyalakan lampunya. 5 menit saja untuk mengganti mimpiku yang tertunda gara-gara kamu. Sudah tahu, temanmu yang ini sangat peka terhadap gerak-gerik saat tidur kamu masih saja berani mengganggu.” Aku bercanda. Aku tahu betul, Rumaisa akan membalas candaanku, entah dengan lemparan bantal atau justru dengan menyalakan lampunya. Akan tetapi, sepertinya pagi ini tidak sama. Alih-alih membalas candaan tadi, Rumaisa justru menuruti candaanku. Ia berdiam di depan vas bunga yang baru saja ia ganti dengan bunga yang segar. Seperti biasa, Gerbera Putih dan Gerbera Jingga. Ia mengambilnya di ruang penyimpanan pasca bangun tidur. Bahkan sampai detik ini, Rumaisa masih diam.

“Hei, Kamu baik-baik saja?” Aku berniat menyapanya kembali. Kunyalakan lampu kamar. Kudapati ia menelangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Sudah pasti ia menangis. Dan bisa dipastikan sedang terjadi sesuatu. Bagaimanapun juga, Rumaisa bukan tipe orang yang mudah menitikkan air mata. Mungkin ini kali pertama atau kedua sejak terakhir kali ia menangis dulu. “Rum, kamu nggak apa kan?” 

“Sampai kapan aku akan terus mengganti vas ini dengan Gerbera segar setiap harinya?” Ia membalas pertanyaanku dengan pertanyaan. Tentu ini bukan Rumaisa seperti biasanya. Aku turun dari kasur, berusaha memeluknya. Meskipun aku tahu pasti berujung penolakan. Dan benar, ia menolak. Lagi-lagi. Seperti itu Rumaisa, pelukan dan air mata hanyalah lambang kelemahan baginya. 

“Apa yang berusaha kamu sampaikan kepadaku, Rum? Kita sama-sama tahu kan, Gerbera sangat baik bagi kesehatan. Bahkan kesehatan mental. Makanya aku nggak pernah segila dulu setelah hampir setiap hari menatap Gerbera di kamar ini.” Semoga berhasil. Semoga candaanku berhasil. Bukan berarti aku tak ingin mengetahui apa yang terjadi, aku hanya berusaha memahami dengan cara lain.  Berhasil! Ia tersenyum untuk itu. Dan secara tiba-tiba air mata di pipinya sudah tidak ada. Secepat itu pula menyembuhkan diri.

“Benar katamu In, aku tidak bisa bersedih di depan dua Gerbera ini. Justru aku yang membuat Gerbera ini tak ada artinya jika aku menangis.” Senyumnya kembali. “Makasih, Ina!” Ia benar-benar bergegas. Sudah pasti ia akan ke ruang penyimpanan dan memeriksa kondisi bunga dan mendata ulang apa yang dibutuhkan dari distributor pagi ini. Rum-panggilan khusus dari aku untuk Rumaisa, akan kembali ke tokonya setelah selesai dengan semua urusan rumah termasuk memasak (untukku juga), membersihkan ruang tamu hingga bahkan membersihkan kamar mandi. Memang aku yang tak tahu diri, ia membiarkanku menumpang tanpa memaksaku untuk membantu mengurus rumah.  Ia benar-benar sahabat terbaik. Aku bisa menjalani hidupku dengan baik salah satunya karena Rum. 

Ia memiliki toko bunga terbaik di sudut kota ini. Tentu, ini adalah salah satu impiannya yang tercapai hasil kerja kerasnya selama ini. Ia membesarkan toko kecil di sudut kota dengan baik. Siapa yang hendak mencapai jarak berkilo-kilo hanya untuk sebuket bunga? Hanya Rum yang mampu menaklukkan hati para pelanggannya. Ia mengenal jenis-jenis bunga bahkan dengan filosofinya dengan baik. Ia juga kreator karangan bunga terbaik. Konsep toko bunga yang ia bangun benar-benar keren. Sunshine Florist, dengan jargon Semua Berbahagia dan konsep yang tertata. Toko bunga yang menawarkan buket bunga, karangan bunga, pelatihan dan festival, hingga proyek-proyek besar lainnya. Aku tahu benar, bagaimana Rum membangun semua ini dengan jerih payahnya. Oh, dan satu lagi! Satu potong chocolate cake bagi pelanggan yang datang langsung untuk memesan atau membeli. 

Sudah ah, cerita tentang Rum. Akan panjang jika kulanjutkan, maka aku pun akan terlambat untuk bekerja. Aku bekerja di Papermint Coffe and Tea sebagai barista. Sejauh ini aku selalu mendapat jadwal pagi, kemudian sorenya aku akan bekerja di toko bunga Rum. Sesungguhnya disini aku tidak benar-benar bekerja. Rum melarangku. Ia tidak menghendakiku bekerja untuknya. Yah, demikian Rum-sahabat terbaik. 

“Ina, nasi goreng ayam kecap sudah siap di meja, jangan bersisa!” Nah, itu dia alarm sarapan pagiku. “Dan jangan lupa habiskan Honey-Lemon-Tea di samping kulkas. Minum sekarang mumpung masih hangat.” Ah, dia benar-benar seperti ibuku. Aku bergegas. Sebelum keluar kamar, kucium Gerbera Oranye di vas. Segar! Konon kata Rum, Gerbera Oranye ini mampu menyuntikkan semangat baru setiap kita mulai melakukan sesuatu. Ya, ini juga yang menjadi alasan Rum memasangnya di vas bersama Gerbera Putih.
***
“Kamu sudah menghabiskan sarapanmu?” Tanya Rum ketika aku lewat di depan toko bunganya.

Aku menyeringai. “Sudah Bunda!” teriakku. Tentu sambil cengengesan ala ala gayaku. Kulihat dari depan, Rum sibuk dengan buket di tangnnya. Itu Gerbera Oranye. Ah, ini Hari Sabtu. Seprtinya ia akan bergegas pula ke sekolah. Meletakkan buket Gerbera Oranye dengan selembar kartu ucapan di meja salah satu guru sebelum pemiliknya datang, atau bahkan sebelum ruang guru mulai ramai. Sudah lama ia melakukan rutinitas ini. Aku tidak tahu untuk apa dan kenapa ia melakukan ini. 

“Hei, kamu mau aku memboncengmu sampai depan sekolah?” teriakku dari luar. Kulihat ia mengangguk. Ia menghampiriku dengan buket di tangan beberapa menit kemudian. Seperti biasa, ia sudah siap dengan celemek dan bandana di kepala. Tapi ia menanggalkan celemek di meja dan naik di boncenganku.

Ia bersemangat. Tersenyum lebar. Seperti Rumaisa Rumaisa biasanya. 

Orang-orang desa cukup mengenal Rum. Mereka menyapa kami “Mbak Ica, Mbak Ina!” Mereka hafal benar dengan kami. Oiya, belum kuceritakan bahwa orang-orang memanggil Rum dengan panggilan Ica. Entah sejak kapan orang-orang memanggilnya demikian. 
“Inaa...” Rum menarik kardiganku. Aku hanya bergumam menjawab sapaannya. “Aku tahu, kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku membawa buket ke sekolah. Dan kamu lebih memilih untuk tidak bertanya. Aku mau cerita, tapi nanti saja yaa..” Aku mengangguk. Dan mempercepat laju sepeda motor. Setibanya kami di depan sekolah, aku berpamitan dan Rum bergegas ke ruang guru. Kebiasaan ini benar-benar belum pernah kupahami untuk apa. Kemudian ia akan kembali ke toko bunga dengan berjalan kaki.
***
Sama halnya mencintaimu, mencintai Gerbera juga ada bahagia tersendiri.

Kalau aku tidak salah baca, begitu bunyi kutipan di sampul buku catatan Rum, yang ia isi setiap harinya. Apa satu buku itu tentang Gerbera? Ataukah tentang tokoh-mu- yang ia tuliskan di kutipan itu? Ah, ia benar-benar misteri. Tapi tetap saja, ia akan menceritakannya nanti. Hari ini cukup melelahkan. Toko begitu ramai, dan distributor banyak yang mengirim bunga hari ini. Ah, belum lagi pesan antar. Aku berbaring di atas kasur. Tak lama kemudian Rum masuk dan berbaring di sampingku, dengan sebelumnya mencium Gerbera di vas bunga. Ia meresapi setiap kali ia mencium Gerbera. Kuakui, menghirup wanginya memang sangat menenangkan.


(To be Continued~)

Thursday, 1 November 2018

Playing As Victim

[Playing as Victim]

Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada yang bertanya-tanya, apa sih maksudnya. Atau mungkin ada yang nanya, kenapa saya mengangkat tentang ini di sini. 

Jadi, sepagi tadi saya sempat berdiskusi via Whatsapp bersama teman saya. Diskusi berjalan seru, karena ternyata kita memiliki pandangan terhadap beberapa masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Sebenarnya diskusi cenderung menganalisis perilaku, tapi semoga bukan ghibah, yaaa hehe. InsyaAllah selalu ada hikmah yang bisa diambil. Dan, tentunya saya banyak mengambil pelajaran dari diskusi sepagi tadi. 

Coba amati gambar di bawah ini :)


Sumber : https://www.bestwallpaperhd.com/withered-coneflower.html


Ada yang mau mengutarakan pendapat setelah melihat bunga pada gambar? Si Withered Coneflower itu sedang ada dalam tahap layu. Entah dia mulai kehabisan tenaga untuk tetap mekar atau ia layu karena anggota tubuhnya dicederai. Coba kita bayangkan jika semua bunga di kebun kita layu atau mati. Prihatin? Tentu saja harusnya. "Kenapa mereka layu? Padahal jika mereka semua mekar kebun ini akan indah." 

Bentuk respon yang muncul adalah perhatian. Kenapa saya membawa kalian-sahabat pembaca-sampai jauh-jauh ke 'perhatian' padahal kita sedang akan membicarakan tentang Playing as Victim? So, jadi ini dia. Setelah saya menganalisis hasil diskusi sepagi tadi, saya bisa memahami jika orang yang selalu playing as victim adalah mereka yang selalu merasa dalam keadaan terendah dalam hidupnya. Seringkali ia berada dalam lingkaran masalah tapi jarang sekali mampu keluar dari lingkar masalah itu. Kenapa? Kenapa mereka sulit keluar dari sana? Karena ia akan terus menyalahkan keadaan atau bahkan menyalahkan orang lain tanpa melihat kepada dirinya sendiri. 

Seringkali playing as victim ini dilakukan tanpa kita sadari. Pelaku playing as victim jarang menyadari jika ia berada dalam posisi ini. Ia tidak akan pernah menemukan titik 'lega' dalam menghadapi masalahnya. Karena mereka akan selalu merasa bahwa dirinya dirugikan disini. Mereka selalu merasa bahwa dirinya paling 'menyedihkan'. Ada satu ungkapan dari teman saya tadi, "Mereka nggak sadar kalau yang ada dalam posisi dan kondisi serupa ada banyak yang lainnya."


Lebih buruk lagi, ketika para pelaku playing as victim ini berusaha melibatkan banyak yang lain dalam lingkaran masalahnya. Maksudnya bagaimana, adalah ketika ia berusaha memanipulasi keadaannya sehingga orang lain akan berempati kepada dirinya, padahal fakta tidak demikian. Pastinya, ia akan membuat orang lain percaya bahwa ia 'korban' dari permasalahan yang terjadi. 

Tidak lagi berusaha menyelesaikan masalahnya, pelaku playing as victim tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada. Ia berusaha menciptakan itu sebagai 'drama'. Saya jadi teringat, ada senior yang seringkali menasihati dengan kalimat ini "Jangan suka menunjuk orang lain, sedangkan kita punya empat jari lainnya menunjuk diri kita sendiri."

Jadi, apa hubungannya dengan paragraf pembuka saya? Berdasarkan kesimpulan yang saya buat, ternyata para pelaku playing as victim ini sebenarnya membutuhkan perhatian lebih dari yang lain. Mereka melakukan ini karena merasa dirinya tak nampak, merasa dirinya kecil dan tidak diperhatikan. Tapi bukan berarti hal ini menjadi sebuah hal yang wajar, ya!


Mari kita bijak dalam bersikap. Mari bijak dalam menghadapi permasalahan. Jangan biarkan ego menguasai diri kita, hingga lupa bahwa masalah ada untuk bisa diselesaikan.Dengan demikian, evaluasi diri menjadi hal yang sangat penting untuk mengetahui 'ada dimanakah' diri kita saat ini. Stay Positive! Karena menjadi 'kontra' selalu memerlukan energi lebih besar.

Being adult is all about manner. 

Sepertinya ini ujung pembicaraan kita. Sampai jumpa di bincang-bincang yang lain. Semoga bermanfaat. Selamat bersinar di jalan kalian masing-masing :)










Saturday, 15 September 2018

Bicara Kehidupan #Tentang Memberi


Bonus Pic : Taken in Johor, Malaysia. Selalu ada makna tersendiri dari setiap gambar.

Memberi bukanlah menawarkan pemberian

So, ada satu hal penting tentang memberi yang sangat kuingat hingga kini. Memberi bukan menawarkan. Itu berasal dari salah satu guru Bahasa Indonesia di MAN dulu. Terima kasih, Budhe! Pengajaran itu melekat kuat. Secuil penting ilmu kehidupan yang sangat besar maknanya. Oke, langsung saja. Memberi bukan berarti bertanya. Hal ini dimaksudkan seperti ini, “Hei, mau kah kau sepotong kue ini?” so, itu bertanya atau memberi? Ya, seringkali kita sebelum memberi kita bertanya terlebih dahulu “Mau, nggak?” meskipun kita memang niat memberi kepada orang lain, ternyata dengan bertanya kita merusak hakikat memberi itu sendiri. Semakin bingung kah?

Simak dulu cerita berikut ini ya 😊

Sepulang dari gedung pendidikan menuju ke asrama di suatu sore. Aku bersama 3 temanku berjalan berdampingan. Melewati rumah Budhe, kami saling menyapa. Ternyata Budhe juga hendak menuju asrama. Budhe memanggil masing-masing dari kami. Seiring berjalan, kami berbincang satu sama lain. Budhe yang asyik menanyakan apa yang kami lakukan di sekolah dan yang lain menjawab. Sebelum kami berbelok, aku hendak memberi kue yang ada di tanganku untuk Budhe. So, “Budhe, ini saya ada kue. Budhe mau?”

Guess! Apa jawaban yang diberikan Budhe kepadaku. “Nggak ah! Kamu mau ngasih atau cuma bertanya?” WOW. Jangan tanya apa yang kurasakan saat itu. Kicep. No words to say. 

“Ya, ini buat Budhe.” Tetap saja beliau menolakku. Teman-teman yang lain pun juga tidak menyangka atas jawaban Budhe. Menangkap maksud dari ekspresi kami, Budhe menjelaskan sebelum kami benar-benar berpisah di ujung jalan.

Dengan lembut beliau menjelaskan “Jika hendak memberi, maka berikanlah. Kita tidak perlu bertanya. Niat tulus memberi memang tidak bisa dibandingkan dengan seberapa banyak yang kita beri, selain itu hakikat sebenarnya memberi ya memberi itu sendiri.” Ya yaa.. pasti kalian semakin bingung. Jadi, di akhir Budhe memberi contoh. “Budhe, ini kue untuk Budhe. Semoga Budhe senang.” 

Gimana? Masih pada bingung? Jadi yuk kita coba bandingkan. 

1.       Bro, mau kaos nggak?
2.       Bro, ini kaos. Semoga pas ya, buat kamu.

Sejak saat itu, setiap kali hendak berbagi sesuatu hampir tak pernah sekalipun menawarkan pemberian. Kendatipun pernah hampir keceplosan pasti langsung teringat momen sore itu bersama Budhe. So, hampir-hampir nggak pernah sekalipun. Ini bermanfaat buatku, semoga buat kalian juga.
Sebelum tulisan ini diakhiri, ada satu idealisme yang muncul. Ternyata, ego punya peran cukup besar dimana “Aku maunya ada timbal balik.” Ya kali, masa setelah memberi kita mengharap timbal balik? Pamrih dong, namanya. Ya, gak sih? 

Jadi, jadi... maksudku seperti ini. Timbal balik yang kumaksudkan adalah respon baik. Atau minimal ucapan terima kasih. Terima kasih. Apa susahnya dua kata ini kita sampaikan? Susaaaah. Siapa setuju? Terima kasih adalah salah satu dari ucapan paling susah disampaikan. Ada ego disana. Atau jika tidak, dia benar-benar tidak merasa perlu berucap terima kasih. 

Oke, jadi semua memang harus dikembalikan kepada masing-masing individunya. Bukan begitu? Menurutku selain memberi, hidup juga tentang penerimaan. Penerimaan tentang suatu keadaan, penerimaan tentang berbagai macam personalia orang lain, bahkan penerimaan hasil yang tak sesuai harapan. 

Simak link berikut ini untuk pendapat lain tentang memberi :)
It was not a matter. It’s all just about time. Ada kalanya, seseorang akan memberi tanpa diminta. Ada kalanya, sesorang sangat senang berterima kasih. Ada kalanya, sesorang akan sangat mudah meminta maaf karena ia merasa berbuat kesalahan meski sedikit. Ada kalanya, ia memberi tanpa menawarkan pemberian. Ada kalanya. Selalu ada kalanya. Lantas, siapa yang membuat “ada kalanya” benar-benar terjadi? Yups, diri kita sendiri. Mari, kita buat kebaikan-kebaikan kecil menjadi bukan lagi ada kalanya. Akan tetapi, benar-benar terjadi di keseharian kita. Wallahu a’lam.

So, terima kasih telah bersedia membaca dan meluangkan waktu untuk mencerna tulisan yang juga sekaligus curhatan ini. Silakan beri kritik dan saran untuk perbaikan kedepan. Berhenti mengeluh dan terus berkarya 😊

15/09/2018
 00:38
Skudai, Johor, Malaysia

As always,
Najaubadati-


Welcoming Back!!!

Hai guys, it's been a long time not see me, right? So... di pertengahan September ini aku kembali. harapannya selalu konsisten. Konsisten dalam menulis, konsisten dalam berbagi. Ya, pasti pada tahu lah... banyak tantangan di setiap menulis. Malas, nggak ada waktu dan sok-sok sibuk yang lainnya. Hehe. Semoga, kali ini terus konsisten.

Ada yang spesial loh dari postingan setelah ini. Apa, apaaa?
Yaaa, postingan pertama di Malaysia, yeayyy!

Selamat membaca dan menikmati :)
Boleh request tulisan jenis apa saja buat postingan postingan selanjutnya. Selain itu, jangan lupa beri komen, kritik dan saran. Hehehe, demi perbaikan kedepannya.

Please, kindly do it guys. I'll be very happy then.
See yaaa~

As always,
Najaubadati

Wednesday, 14 March 2018

Catatan Pendek untuk Sebuah Perjalanan Panjang : Oleh-oleh Pelatihan Kader Dasar


Mengapa harus menjadi catatan pendek padahal berasal dari sebuah perjalanan panjang? Ya, karena catatan ini mungkin hanya akan mengisi satu atau dua halaman kedepan. Padahal perjalanan yang saya lakukan amatlah panjang. Berapa meter panjangnya? Hihihi. Bahkan sangat panjang sampai-sampai tak bisa lagi dihitung. Oke, intermeso cukup. Jadi, mengapa perjalanan ini adalah perjalanan panjang? Bayangkan, penulis harus melalui jungkir balik menjalani kehidupan selama hampir tiga tahun untuk kemudian bisa mengikuti pelatihan ini. Nah, mungkin banyak yang bertanya. Pelatihan apa sih? Oke, langsung saja. PKD atau Pelatihan Kader Dasar adalah bentuk kaderisasi formal kedua setelah MAPABA di PMII. Jika penulis sudah MAPABA sejak awal perkuliahan, kenapa baru PKD sekarang? Nah, makanya perjalanan itu kemudian diklaim menjadi perjalanan panjang. Oke, singkat saja. Kalau mau tau lebih lanjut, kita simak catatan-catatan berikutnya.

Sebuah pendidikan formal tentu melalui banyak proses dan penetapan standar termasuk kurikulum. Ada kurang lebih 10 materi yang harus dikuasai oleh peserta pelatihan nantinya. 10 materi dalam waktu tempuh 3 hari. Bisa bayangkan? Awal melihat susunan acara kepala sudah mau meledak. Hahaha, alay sih. Oke, jadi apa saja materinya? Ada materi tentang Aswaja sebagai manhaj, Strategi Pengembangan PMII, Paradigma, Nahdhotun Nisa’, Strategi dan Taktik, dan beberapa lagi. Maaf, penulis hanya mampu menuangkan apa yang masih bersamayam dalam ingatannya. Karena, dengan berat hati harus merelakan buku catatan yang tertinggal di lokasi.

Oke, cus ke catatan pertama. Paradigma Arus Balik Masayarakat Pinggiran dan PKT.

Setelah sekian lama menyelami PMII, baru kali ini penulis mengenal paradigma yang muncul sebelum paradigma Kritis Transformatif. Payah bukan? Karena bahkan, penulis tidak mencoba hanya sekadar menelisik sejarah paradigma yang sedang digunakan. Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran ini muncul karena PMII melihat kondisi masyarakat yang saat itu sangat tertindas. Kemudian, munculah berbagai macam gerakan dan paradigma ini yang mendasarinya. Setelah zaman semakin maju dan demokrasi mulai digaungkan, maka terhentilah pergerakan atas dasar paradigma ini. Melihat kondisi ini, PKT muncul dan menjadi solusi.  Apa itu PKT? PKT atau Paradigma Kritis Transformatif adalah paradigma atau dasar pemikiran yang mengharapkan kader PMII dapat bersikap kritis dalam melihat, menelaah, mengidentifikasi, memahami bagiamana kondisi dirinya dan kondisi lingkungannya. Kemudian, kritis disini tetap dalam tuntutan transformatif. Jadi, kritislah tapi juga milikilah solusi terbaiknya. Kuy, kita izinkan otak kita berpikir lebih banyak dan lebih besar.

Catatan kedua. Manhaj Al-Fikr dan Manhaj Al-Harakah.

Sejauh ini, siapa yang masih belum mengenal Aswaja? Usai MAPABA tentu istilah itu sudah melekat dalam benak, apalagi yang kemudian diperkuat dalam diskusi-diskusinya. Sebagai manhaj, Aswaja menawarkan solusi yang sangat luar biasa. Tentu masih ingat dengan Tawassuth, Tasamuh, Tawazun dan Ta’addul bukan? Penulis menyebutnya unsur penting (Yang, masih ngambang tentang 4 unsur itu kuy sini ngopi bareng 😊). Sebagai pribadi PMII, keempat unsur penting tersebut akan sangat luar biasa ketika tercermin dalam setiap pemikiran dan pergerakan kita. Jadi, marilah kita refleksi! Sudahkah pemikiran dan pergerakan kita mengandung keempat unsur penting tersebut?

Catatan ketiga. Kebangkitan Perempuan.

Aih, bangkit yang bagaimanakah ini maksudnya? Ternyata, dulu perempuan sangat tertindas bahkan sekadar untuk menyampaikan pendapat. Pematerinya keren >_< (Kalau mau tahu siapa, kuy sini ngopi bareng dulu wkwk) Jadi, satu hal penting yang saya dapat dari beliau. Berprinsiplah, berpegang teguhlah dengan prinsip itu, tapi tetap milikilah setiap momennya. Eh, ini mah nggak Cuma satu hal penting ya. Hehehe. Kuy, jadi perempuan-perempuan hebat. Perubahan dan cita-cita besar ada di pundak kita.

Catatan keempat. Hal Besar Dibalik Sang Trilogi.

“Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah swt, berbudi luhur, berilmu, cakap, bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”
Allahu Akbar, setelah berulang-ulang membaca mencoba memahami dan menelaah. Betapa beratnya tujuan yang harus dicapai dari setiap kita, sahabat-sahabtku :”( Lantas, sudah dimanakah kita? Mari kita cermati bersama. Masih ingat dengan trilogi PMII? Tri Motto, Tri Khidmat, dan Tri Komitmen. Yang lupa? Yang ingat? Yang nggak tahu? Yang pura-pura lupa? Yuk, semua mari kita lihat apa hal besar dibaliknya!

Tiga baris pertama adalah Tri Motto, tiga baris berikutnya adalah Tri Khidmat, dan tiga baris terakhir adalah Tri Komitmen. Kembali ke tujuan pertama dan kedua, bertaqwa dan berbudi luhur. Kedua tujuan itu terletak pada kata pertama dari masing-masing trilogi yaitu dzikir, taqwa dan kejujuran. Kemudian, cita-cita ketiga dan keempat, berilmu dan cakap. Keduanya ada pada kata kedua dari masing-masing trilogi yaitu fikir, intelektual, dan kebenaran. Sedangkan tujuan kelima dan keenam, yaitu bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu dan berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan ada pada poin terakhir dari masing-masing trilogi yaitu amal sholeh, profesional dan keadilan. Masih bingung atau makin bingung? Atau punya pendapat lain? Kuy, sini ngopi bareng hehehe.

Ternyata, di akhir sesi itu hal yang sempat tercatat oleh penulis adalah bagiamana PMII mampu melakukan perubahan. Siapa yang ada di dalamnya? Kita!!! Maka, apa dan kearah mana perubahan itu akan dibawa? Jawaban terbaiknya ada pada kita.

Nah, itulah catatan pendek tentang sebuah perjalanan panjang. Percayalah, sependek itu karena keterbatasan penulis dalam mengingat dan teledor meninggalkan buku catatan. Setiap yang terjadi dalam kehidupan kita ternyata adalah ilmu yang tanpa kita ikat maka ia akan berhamburan sia-sia. Maka, jangan tinggalkan pena dan buku, karena sulkus girus otak juga sangat memeliki keterbatasan. Serta jangan sesombong itu meninggalkan pena dan buku. Pena dan buku memang kuno, tapi mereka sangat berarti jika pemiliknya juga berarti. Maka, cerdaslah!

Salam Pergerakan!

PS : Seharusnya catatan ini bisa jadi sangat panjang, tapi karena keterbatasan ingatan penulis dan kecerobohan meninggalkan buku catatan maka jadilah catatan sependek ini. Mau tahu lebih lanjut? Kuy, ngopi 😊 Mau tahu lebih banyak lagi? Kuy, ikut PKD!! Terima kasih banyak sahabat pembaca~

Monday, 27 November 2017

Gadis Tahu Takwa

Apa kabar sahabat Kotak Inspirasi :) sudah lama tak bersua yaaa -_- Kini hadir lagi dengan sebuah cerpen hihihi. Semoga menghibur ;))


Matahari mulai bergeser, meninggi beberapa meter. Menyorot tajam ke tanah lapang di belakang rumah mendiang Tuan Lau atau akrab disapa dengan Bah Kacung-Founder Tahu Takwa Khas Kediri. Cahaya matahari itu kemudian tidak sengaja menimpa wajah Lau Chen. Ia mengerjap, menyipitkan pandangan sembari tetap melanjutkan pekerjaannya, menggiling kedelai.
 "Nona Chen, ada pelanggan yang sedang mengamuk di depan." Sergah Ci An dengan panik. Lau Chen sudah biasa dengan hal ini. Sudah bertahun-tahun ia menghadapi berbagai macam pelanggan di tokonya. Lau Chen merupakan satu-satunya keturunan Tuan Lau yang tersisa. Sebagai generasi ke-8 Bah Kacung, Lau Chen selalu menunjukkan kinerja yang baik di hadapan pegawainya. Lau Chen sudah memimpin Toko Tahu Takwa Bah Kacung ini sejak 4 tahun yang lalu. Kendatipun dia memiliki banyak pegawai, Lau Chen tidak hanya melakukan kontrol tetapi juga selalu ikut andil dalam pekerjaan. 
   "Santai saja Ci An.." balas Lau Chen dengan tenang. Sejenak meletakkan satu wadah kedelai dan menuju ke toko. Ia masih menggunakan celemek usangnya. Ada yang bisa saya bantu Tuan? Saya mendapat laporan bahwa anda menghadapi beberapa masalah dengan pengiriman tahu dari toko kami. Lau Chen bertanya dengan sopan. Ternyata itu memengaruhi air muka pelanggan tersebut.
 Nampaknya, amarah pelanggan tersebut mereda. "Oh, jadi begini Ci.. jumlah tahu takwa yang dikirim tidak sesuai dengan pemesanan. Sehingga tidak mencukupi pemenuhan konsumsi acara saya." Jelas pelanggan tersebut.
  "Kami mohon maaf untuk keteledoran kami, Tuan. Izinkan kami mengganti rugi tersebut. Berapakah jumlah yang belum terpenuhi? Nanti, saya sendiri yang akan memastikan dan mengantar tahunya." Lau Chen begitu pandai. Jelas dia tetap berusaha mempertahankan tradisi yang sudah dipelihara keluarga Bah Kacung. Sejenak kemudian Lau Chen sudah siap dengan kantung plastik besar berisi sekitar 10 besek tahu. "Apa Tuan menginginkan kami yang mengantar tahu-tahu ini atau Tuan berkenan membawa serta?" Lau Chen bertanya dengan sopan. Dia benar-benar ahli.
   "Ehmm.. jadi begini Cici. Kebetulan tadi koki acara kami sedang tidak di tempat. Apakah Cici juga pandai mengolah tahu-tahu ini? Jika iya, saya sangat memohon kesediaan Cici untuk ikut dengan saya, dan saya tidak akan menuntut ganti rugi sebelumnya. Eh ini, hanya jika Cici tidak keberatan. " Bagaimana mungkin ide gila tersebut muncul di benak lelaki itu. Ia juga tak memahaminya.
   "Nona Chen sudah pasti jagonya, Tuan. Kerap kali kami menikmati hasil olahan tahunya. Tuan bisa meminta jenis olahan apapun pasti Nona Chen tahu resep rahasianya." Sontak pegawai itu mendapatkan tatapan tajam dari Lau Chen seakan berkata-apa katamu? Lau Chen semakin bingung apa yang harus dia lakukan. "Pergi saja Nona toko ini aman bersama kami." Usul salah satu pegawai. Ia berpikir bahwa ini ide bagus bagi majikannya daripada setiap hari mengurus toko dan pabrik tahu, sudah lama majikannya itu tidak menatap dunia luar. Kemudian ia berjalan mendekati Lau Chen dan berbisik "Ikut saja Nona, kau benar-benar perlu udara segar."
   Sejenak ia menunduk dan sejurus kemudian mendongak. "Emmm baiklah Tuan, saya akan ikut. Perkenankan saya berganti pakaian yang pantas sejenak." Ia mendapat anggukan tanda setuju dari tuan pelanggan. Ini semua terjadi begitu tiba-tiba.
                                    ***
Ramawijaya menatap tumpukan berkas di depannya. Dia adalah manajer salah satu EO terkemuka di Kota Kediri. Bukan tumpukan kertas di depannya, melainkan bayangan gadis tahu takwa bercelemek usang itu yang selalu melintas di pikirannya. Ah, siapa namanya? Chen. Dia hanya mendengar itu, Nona Chen. Bodohnya, dia tidak memperkenalkan diri dengan baik. Ketika itu, dia hanya membawa gadis tersebut ke dapur saat acara berlangsung, memperkenalkannya dengan beberapa kru, dan langsung pergi mengurus bagian lain. Hal lebih bodohnya, dia belum berterima kasih atau setidaknya mengantarkannya pulang. Ya, dia berhutang budi dengan gadis tersebut. Sejak saat itu, dia seringkali berpikir menemukan cara yang tepat untuk bertemu dengan baik. Akan tetapi, urung. Ramawijaya adalah manajer super sibuk dengan order even yang sangat tinggi. Dia benar-benar professional di bidangnya. Oh, Tuhan! Berikan aku kesempatan untuk bertemu kembali dengannya. 
  Pintu ruangannya berbunyi. "Mas...Air diluar. Ada perlu penting nih, Mas." ungkap asistennya.
  "Oh, masuk saja. Kau ini seperti tak kenal denganku saja Le! Tidak perlu mengetuk formal seperti itu, bahkan kamu tahu bahwa kamu bisa langsung masuk." Ujar Ramawijaya.
 "Tadi sudah kulakukan, tapi kehadiranku sama sekali tidak mengusikmu, Mas. Jadi kubuat pintu ini bersuara. Hehehe." Jelas Air. “Oh, jangan-jangan ada yang mengganggu pikiran Mas Rama ini? Siapa Mas? Gadis tahu takwa yang tempo hari Mas bawa ke acara di alun-alun?”
 Ramawijaya tersentak kaget. "Bagaimana kamu pandai sekali menebak Air? Saya jadi malu ini." Tapi dia tidak mungkin berbohong. 
   "Aku dukung Mas, dia cantik. Lho Mas ngicipi olahan tahunya tidak? Bagiku nilai masakannya 95. Mantap rasanya Mas, ueenak. Beruntung sekali dia mau membantu kita. Proyek yang ingin kusampaikan tunda nanti saja. Sampai Mas Rama menemukan gadis itu lagi." Air bergegas pergi sebelum menerima pukulan dari manajer sekaligus kakak baginya. Air benar, Ramawijaya tertawan hatinya.
                                    ***
Setelah kunjungan ke rumah ibunya di desa, Ramawijaya membulatkan tekad untuk berkunjung ke toko tahu takwa Bah Kacung. Berharap bertemu dengan Lau Chen. Toko itu masih sama dengan kunjungan terakhirnya beberapa minggu yang lalu. Hanya saja lebih ramai.
   "Permisi, bisakah saya bertemu dengan Nona Chen?" sapa Ramawijaya kepada salah satu pegawai. 
   Pegawai itu mengenali Ramawijaya "Oh, Tuan yang beberapa minggu lalu datang kemari ya..ada perlu apa Tuan dengan Nona Chen? Karena bisa dipastikan Tuan tidak akan bisa bertemu dengannya." Raut wajah pegawai itu berubah. Seolah langit cerahnya direnggut seketika oleh mendung. 
        "Kenapa tidak?" balas Ramawijaya.
  "Begini Tuan mohon maaf sebelumnya. Nona Chen sudah meninggal dunia seminggu yang lalu karena ia mengidap leukemia akut." Kali ini mendung benar-benar menimpa Ramawijaya. Hatinya terhujani pilu. Ia sudah terlambat. Hanya tersisa rindu yang menggenang. Jika saja ia menyadari lebih cepat. Jika saja ia mengantarnya pulang saat itu. Jika saja ia datang berkunjung segera setelah itu. Tersisa pengandaian. Tersisa penyesalan. Sekarang, Ramawijaya harus menanggung segenap rasa tersebut. Segenap rasa untuk gadis tahu takwa itu.

Cerpen ini telah diterbitkan di antologi cerpen yang berjudul Yellow Light oleh Penerbit Ellunar

Saturday, 10 June 2017

Lika-liku Merindu

Assalamualaikum, sahabat Kotak Inspirasi :) Semoga senantiasa baik dan sehat di hari kelima belas Ramadhan ini. Gimana rasanya Ramdhan tahun ini? Masihkah rindu itu menggebu-menggebu? Atau semakin menjadi-menjadi? Ataukah rindu itu sudah sangat menyakitkan karena tinggal setengah bulan lagi perjumpaan kita dengan Ramadhan? Rindu. Ah, rindu. Selalu menjadi topik seru dari waktu ke waktu. Atau mungkin rindu kita sudah terkikis habis oleh congkak kita karena tak bersyukur sama sekali atas bulan ini? Ataukah rindu ini hilang karena kita banyak menyimpang bahkan di bulan yang mulia ini? Na'uudzubillah. Well, penulis datang dengan cerita baru nih...Tentang Naima, bukan lagi remaja tanggung yang masih berkelebat hebat dengan rasa rindunya. Semoga 
bermanfaat~

Lika-liku Merindu


“Bunda..siapakah orang yang paling dibenci oleh Allah?” 

Naima termenung diatas sajadahnya. Ia baru saja menyelesaikan dua rakaat sholat sunnah wudhu. Kepalanya dipenuhi banyak hal. Ia bahkan tidak bisa khusyuk menjalankan sholatnya. Salamnya hanya dipenuhi penyesalan. Penyesalan karena ia tidak sepenuhnya ada diatas sajadah. Penyesalan. Sholatnya hanya sia-sia. Rukuk dan sujudnya hanya sia-sia. Ia putus asa. Bagaimana mungkin ia membiarkan setan bermain-main di hati kecilnya. Rasa benci itu tak kunjung reda. Bahkan seusai salamnya tadi, ketika tiba-tiba ia teringat masa lalunya. Kurang lebih lima belas tahun silam. Ketika ia masih mengenal dua sahabat masa kecil, dua kucing kesayangan Kika dan Kiki, dan juga Dino anak kambing yang ditinggal mati oleh mamanya. Naima ketika itu sangat menyayangi hewan-hewan piaraannya, menyangai dua sahabat masa kecilnya, dan juga satu lagi yaitu pemotong rumput kesayangan Naima. Kerap kali Naima memainkan mesin pemotong rumput buatan ayahnya tersebut. 

Suatu sore, ketika ia harus dihadapkan oleh sebuah kecalakaan Kika di depan matanya, ia termenung seketika. Kiki tak lagi memiliki saudara. Naima merasa kehilangan separuh jiwanya. Ia termangu di pinggir jalan. Kika dilindas oleh mobil dengan begitu kejam. Sejenak kemudian air mata membanjiri wajahnya. Segera mungkin ia berlari kedalam rumah, berteriak memanggil bunda sambil menangis tentunya. “Kika bunda...Kika tertabrak mobil.” Ia berkata sambil terisak. Tak lama kemudian ia berkata. “Bunda, mobil itu jahat. Mobil itu membunuh Kika. Mobil itu bahkan tidak mau meminta maaf. Bundaa..mobil itu harus dihukum.” Ia marah dalam tangisnya. Bunda hanya tersenyum sambil berkata “Itu tandanya, Allah sedang sangat merindukan Kika, sayang.” Sejenak kemudian Naima mulai terdiam, mengusap air mata dan memeluk bunda.

Malam hari setelah kejadian itu, Naima masih bertanya-tanya. Tentang kematian Kika, tentang mobil yang tak mau meminta maaf, tentang betapa ia membenci pengendara mobil, dan tentang bagaimana ia membenci dirinya sendiri yang tak mampu menjaga Kika. Sudah pukul sepuluh malam dan ia tak kunjung tidur. Bunda pun memasuki kamar dan duduk disampingnya. “Kenapa belum tidur sayang?” bunda bertanya.

Bunda, siapakah orang yang paling dibenci Allah?  Itulah pertanyaan yang terlontar dari Naima kepada bundanya. Kemudian bunda menjawab dengan lembut. Kenapa Naima harus bertanya yang paling dibenci Allah ketika kita bisa menjadi yang paling disayang oleh-Nya?  Setelah bunda kembali bertanya, Naima mengangguk dan menyampaikan bahwa Naima ingin bertanya kedua hal tersebut. Kemudian bunda menjelaskan bahwa yang paling disayang oleh Allah adalah ketika hati manusia itu bersih dan tenang dari rasa benci yang bersarang di hatinya, itu artinya Allah sangat menyayangi hamba-Nya yang dengan murah hati dapat memaafkan kesalahan dan berdamai dengan keadaan. Sedangkan yang paling dibenci oleh Allah adalah yang dalam hatinya masih tersumbat kebencian, ia pupuk hingga subur dengan bantuan setan sehingga dendam meletup-meletup dan ia tak pernah ada maaf bagi kesalahan. Begitulah orang yang pelit, oleh karena itu hatinya menjadi sempit. Orang yang pelit memaafkan maka hatinya akan sempit oleh rasa dendam. Sebelum tertidur, Naima sempat bergumam “Ya Allah, apakah Engkau memaafkanku atas kebencianku terhadap mobil yang menabrak Kika? Sekarang aku sudah memaafkannya, jadi... maafkan dan sayangi aku ya Allah.” Ia berdoa dan tertidur kemudian.

Kenapa harus menjadi yang dibenci ketika kita bisa menjadi yang disayangi?  Naima masih termenung diatas sajadahnya. Ia teringat akan hal itu. Akan tetapi, hatinya sedang porak-poranda oleh rasa benci yang teramat sangat dan ia pupuk hingga tumbuh subur. Setan bersorai atas Naima. Namun tadi, seusai berwudhu ia mulai resah hingga akhir dua rokaatnya. Apa yang ia dapatkan dari rasa benci yang ia pendam dan pupuk selama ini? Tidakkah dulu, ketika silaturrahim itu masih terikat erat sangat menyenangkan? Tidakkah dulu semuanya begitu menenangkan? Tidakkah dulu, serasa pintu surga Allah sangat terbuka lebar baginya? Sahabat serasa keluarga, keluarga serasa surga. Tapi apa yang ia miliki sekarang? Tidak ada. Ia hanya berteman dengan dendam dan rasa benci. Ia hanya berteman dengan rasa kesal dan tak berguna. Ia hanya berteman dengan kemarahan. Usia berapa ia sekarang? 20 tahun sudah ia hidup dimuka bumi. Namun ia telah kalah dari Naima kecil. Naima yang dulu sangat mendengarkan kata-kata bundanya, yang periang dan bersahabat baik dengan teman-temannya, terlebih Naima kecil yang gemar memaafkan walaupun ia telah dilukai, yang menyangi walaupun ia seringkali dibenci. 

Satu jam kemudian, sajadah dan mukena yang Naima kenakan sudah basah oleh air mata. Semoga bukan air mata yang sia-sia. Akan tetapi, air mata berbau surga yang penuh keridhoaan-Nya. Sejenak kemudian ia tersungkur dalam seujudnya. Ya Allah, apakah Engkau akan memaafkanku? Apakah pintu maaf-Mu dapat terbuka bagi pendendam sepertiku? Tubuhnya bergetar. Ia terisak kuat dalam sujudnya. Suasana duha begitu menenangkan, membuatnya ingat bahwa ia telah sangat jauh terbawa permainan setan. Ia telah rela begitu saja ditertawai oleh mereka. 

Setelah bangun dari sujud dan mengusap air matanya, ia mendongak sekali dan kembali menunduk. Bunda. Aku memerlukan bunda. Naima membutuhkan bunda. Merindukan pelukan hangat dari bunda. Angin berhembus perlahan dari luar menuju kedalam masjid. Membelai lembut. Menerpa halus wajah rupawan itu. Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Berkuasa. Seketika, Naima merasakan kehangatan dalam hatinya. Lembut. Sembari berlalu, angin tersebut seolah membisik “Memaafkanlah dan berdamai, sayang. Itu satu-satunya cara agar hatimu memiliki ruang.”

Genap sudah dua jam Naima terduduk diatas sajadahnya. Sekarang ia sadar. Banyak hal yang teramat ia rindukan. Banyak hal yang telah ia lewatkan selama ini. Selama ia menuruti  kebencian-kebenciannya. Ia merindu dicintai dan disayangi oleh adik-adiknya, sahabatnya, dan juga keluarganya. Terlebih, ia sangat merindukan bangunan yang telah runtuh karena ia rusak tiang-tiangnya. Ia rindu. Ia merindu. Merindu teramat sangat. 

The End.
~N~

PAMIT #Bagian 1

Bersua kembali setelah sekian lama. Hehe. Selamat malam, karena saya menulis ini di malam hari ditemani segelas chocolate latte dan ch...