Monday, 27 November 2017

Gadis Tahu Takwa

Apa kabar sahabat Kotak Inspirasi :) sudah lama tak bersua yaaa -_- Kini hadir lagi dengan sebuah cerpen hihihi. Semoga menghibur ;))


Matahari mulai bergeser, meninggi beberapa meter. Menyorot tajam ke tanah lapang di belakang rumah mendiang Tuan Lau atau akrab disapa dengan Bah Kacung-Founder Tahu Takwa Khas Kediri. Cahaya matahari itu kemudian tidak sengaja menimpa wajah Lau Chen. Ia mengerjap, menyipitkan pandangan sembari tetap melanjutkan pekerjaannya, menggiling kedelai.
 "Nona Chen, ada pelanggan yang sedang mengamuk di depan." Sergah Ci An dengan panik. Lau Chen sudah biasa dengan hal ini. Sudah bertahun-tahun ia menghadapi berbagai macam pelanggan di tokonya. Lau Chen merupakan satu-satunya keturunan Tuan Lau yang tersisa. Sebagai generasi ke-8 Bah Kacung, Lau Chen selalu menunjukkan kinerja yang baik di hadapan pegawainya. Lau Chen sudah memimpin Toko Tahu Takwa Bah Kacung ini sejak 4 tahun yang lalu. Kendatipun dia memiliki banyak pegawai, Lau Chen tidak hanya melakukan kontrol tetapi juga selalu ikut andil dalam pekerjaan. 
   "Santai saja Ci An.." balas Lau Chen dengan tenang. Sejenak meletakkan satu wadah kedelai dan menuju ke toko. Ia masih menggunakan celemek usangnya. Ada yang bisa saya bantu Tuan? Saya mendapat laporan bahwa anda menghadapi beberapa masalah dengan pengiriman tahu dari toko kami. Lau Chen bertanya dengan sopan. Ternyata itu memengaruhi air muka pelanggan tersebut.
 Nampaknya, amarah pelanggan tersebut mereda. "Oh, jadi begini Ci.. jumlah tahu takwa yang dikirim tidak sesuai dengan pemesanan. Sehingga tidak mencukupi pemenuhan konsumsi acara saya." Jelas pelanggan tersebut.
  "Kami mohon maaf untuk keteledoran kami, Tuan. Izinkan kami mengganti rugi tersebut. Berapakah jumlah yang belum terpenuhi? Nanti, saya sendiri yang akan memastikan dan mengantar tahunya." Lau Chen begitu pandai. Jelas dia tetap berusaha mempertahankan tradisi yang sudah dipelihara keluarga Bah Kacung. Sejenak kemudian Lau Chen sudah siap dengan kantung plastik besar berisi sekitar 10 besek tahu. "Apa Tuan menginginkan kami yang mengantar tahu-tahu ini atau Tuan berkenan membawa serta?" Lau Chen bertanya dengan sopan. Dia benar-benar ahli.
   "Ehmm.. jadi begini Cici. Kebetulan tadi koki acara kami sedang tidak di tempat. Apakah Cici juga pandai mengolah tahu-tahu ini? Jika iya, saya sangat memohon kesediaan Cici untuk ikut dengan saya, dan saya tidak akan menuntut ganti rugi sebelumnya. Eh ini, hanya jika Cici tidak keberatan. " Bagaimana mungkin ide gila tersebut muncul di benak lelaki itu. Ia juga tak memahaminya.
   "Nona Chen sudah pasti jagonya, Tuan. Kerap kali kami menikmati hasil olahan tahunya. Tuan bisa meminta jenis olahan apapun pasti Nona Chen tahu resep rahasianya." Sontak pegawai itu mendapatkan tatapan tajam dari Lau Chen seakan berkata-apa katamu? Lau Chen semakin bingung apa yang harus dia lakukan. "Pergi saja Nona toko ini aman bersama kami." Usul salah satu pegawai. Ia berpikir bahwa ini ide bagus bagi majikannya daripada setiap hari mengurus toko dan pabrik tahu, sudah lama majikannya itu tidak menatap dunia luar. Kemudian ia berjalan mendekati Lau Chen dan berbisik "Ikut saja Nona, kau benar-benar perlu udara segar."
   Sejenak ia menunduk dan sejurus kemudian mendongak. "Emmm baiklah Tuan, saya akan ikut. Perkenankan saya berganti pakaian yang pantas sejenak." Ia mendapat anggukan tanda setuju dari tuan pelanggan. Ini semua terjadi begitu tiba-tiba.
                                    ***
Ramawijaya menatap tumpukan berkas di depannya. Dia adalah manajer salah satu EO terkemuka di Kota Kediri. Bukan tumpukan kertas di depannya, melainkan bayangan gadis tahu takwa bercelemek usang itu yang selalu melintas di pikirannya. Ah, siapa namanya? Chen. Dia hanya mendengar itu, Nona Chen. Bodohnya, dia tidak memperkenalkan diri dengan baik. Ketika itu, dia hanya membawa gadis tersebut ke dapur saat acara berlangsung, memperkenalkannya dengan beberapa kru, dan langsung pergi mengurus bagian lain. Hal lebih bodohnya, dia belum berterima kasih atau setidaknya mengantarkannya pulang. Ya, dia berhutang budi dengan gadis tersebut. Sejak saat itu, dia seringkali berpikir menemukan cara yang tepat untuk bertemu dengan baik. Akan tetapi, urung. Ramawijaya adalah manajer super sibuk dengan order even yang sangat tinggi. Dia benar-benar professional di bidangnya. Oh, Tuhan! Berikan aku kesempatan untuk bertemu kembali dengannya. 
  Pintu ruangannya berbunyi. "Mas...Air diluar. Ada perlu penting nih, Mas." ungkap asistennya.
  "Oh, masuk saja. Kau ini seperti tak kenal denganku saja Le! Tidak perlu mengetuk formal seperti itu, bahkan kamu tahu bahwa kamu bisa langsung masuk." Ujar Ramawijaya.
 "Tadi sudah kulakukan, tapi kehadiranku sama sekali tidak mengusikmu, Mas. Jadi kubuat pintu ini bersuara. Hehehe." Jelas Air. “Oh, jangan-jangan ada yang mengganggu pikiran Mas Rama ini? Siapa Mas? Gadis tahu takwa yang tempo hari Mas bawa ke acara di alun-alun?”
 Ramawijaya tersentak kaget. "Bagaimana kamu pandai sekali menebak Air? Saya jadi malu ini." Tapi dia tidak mungkin berbohong. 
   "Aku dukung Mas, dia cantik. Lho Mas ngicipi olahan tahunya tidak? Bagiku nilai masakannya 95. Mantap rasanya Mas, ueenak. Beruntung sekali dia mau membantu kita. Proyek yang ingin kusampaikan tunda nanti saja. Sampai Mas Rama menemukan gadis itu lagi." Air bergegas pergi sebelum menerima pukulan dari manajer sekaligus kakak baginya. Air benar, Ramawijaya tertawan hatinya.
                                    ***
Setelah kunjungan ke rumah ibunya di desa, Ramawijaya membulatkan tekad untuk berkunjung ke toko tahu takwa Bah Kacung. Berharap bertemu dengan Lau Chen. Toko itu masih sama dengan kunjungan terakhirnya beberapa minggu yang lalu. Hanya saja lebih ramai.
   "Permisi, bisakah saya bertemu dengan Nona Chen?" sapa Ramawijaya kepada salah satu pegawai. 
   Pegawai itu mengenali Ramawijaya "Oh, Tuan yang beberapa minggu lalu datang kemari ya..ada perlu apa Tuan dengan Nona Chen? Karena bisa dipastikan Tuan tidak akan bisa bertemu dengannya." Raut wajah pegawai itu berubah. Seolah langit cerahnya direnggut seketika oleh mendung. 
        "Kenapa tidak?" balas Ramawijaya.
  "Begini Tuan mohon maaf sebelumnya. Nona Chen sudah meninggal dunia seminggu yang lalu karena ia mengidap leukemia akut." Kali ini mendung benar-benar menimpa Ramawijaya. Hatinya terhujani pilu. Ia sudah terlambat. Hanya tersisa rindu yang menggenang. Jika saja ia menyadari lebih cepat. Jika saja ia mengantarnya pulang saat itu. Jika saja ia datang berkunjung segera setelah itu. Tersisa pengandaian. Tersisa penyesalan. Sekarang, Ramawijaya harus menanggung segenap rasa tersebut. Segenap rasa untuk gadis tahu takwa itu.

Cerpen ini telah diterbitkan di antologi cerpen yang berjudul Yellow Light oleh Penerbit Ellunar

No comments:

Post a Comment

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...