Wednesday, 22 March 2017

Hati Yang Sakit

Ketika rumah bukan lagi sebagai tempat kembali terbaik. Ketika rumah tak lagi terasa seperti surga. Hendaknya saat itulah hati mulai sadar. Bahwa hati ini sudah terinfeksi begitu dalam. Digerogoti penyakit-penyakit mematikan. Hingga tak lagi ada bahagia, tak lagi ada kasih terlebih rasa sayang. Seberapa lama rumah itu akan bertahan? Lihat saja, satu dua hari kedepan-oh bukan-satu detik kedepan saja rumah itu akan ambruk, roboh, hancur berantakan. Tak adalagi cinta yang menguatkan tiang-tiangnya. Hanya iri dengki yang tersisa. Dan amarah yang mengisi ruangannya. Ketika sakit hati namun hati itu ikhlas memaafkan maka tak akan pernah ada hati yang sakit hingga merintih. Tak akan ada infeksi lebih lanjut. Jikalau saja, hati itu ikhlas memaafkan maka rumah itu masih menjadi surga. Hanya saja, hati itu sudah terinfeksi teramat sangat oleh penyakit iri dengki dan dusta. Sehingga, bukan lagi surga namun rumah serasa neraka. Na'udzubillah.
Sesungguhnya seorang muslim dengan muslim yang lainnya adalah ibarat sebuah bangunan yang tiangnya saling menguatkan satu sama lain. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa "Jika kau ingin dipanjangkan umurmu dan dilapangkan rezekimu maka sambunglah silaturrahim."
Lantas bagaiamana jika silaturrahim itu terputus?
Dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah saw bersabda : “Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim selama lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka." Na'udzubillah.
Astaghfirullah. Masih ragukah kita untuk saling merelakan dan memaafkan? Tidakkah kedamaian dalam bermuamalah adalah sebuah idaman?
Tunggu apalagi? Masih menunggu hingga kita mati? Sungguh kau telah salah, karena yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Lantas, masih berpikir untuk berjauh-jauhan?
Islam. Islam. Islam. Berasal dari kata 'salam' yang artinya keselamatan. Betapa Islam mencintai kedamaian. Bukalah hati kita, sembuhkan hati kita dari infeksi bakteri-bakteri jahat. Sembuhkan dengan maaf, sembuhkan dengan salam.
Karena apa sahabatku? Rahman dan Rahim-Nya tak pernah memiliki batas akhir untuk dikaruniakan kepada kita, manusia. Kemudian masihkah kita berpikir dua kali untuk mencurahkan kasih kasih dan sayang kita? Bahkan Rasulullah mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang yang kita benci. Sekalipun orang itu mencaci maki Rasulullah di depan beliau, namun tiada henti Rasulullah berbuat baik kepadanya. Oh, malulah kita. Betapa malunya kita. Menyuarakan ukhuwah tapi tak ada usaha memperbaiki silaturrahim. Menyuarakan perdamaian tapi kita menyemai bibit permusuhan.
Wahai sahabat, yang tak pernah lekang adalah nasihat baik. Sekalipun yang diatas hanyalah cuitan-cuitan belaka. Semoga saja membawa makna. Pernah suatu ketika, ada seorang sahabat karib (eh, karib? Sok mengkaribkan-maaf ya) mengirimku audio file. Apa isinya? Soundtrack dari kartun Spongebob Squarpants yang sangat aku benci. Lantas ia berkata, “Kau boleh membencinya, namun jangan kau lupa maknanya.” Makna lagu itu. Kemudian aku belajar. Belajar mengambil hikmah sekalipun aku membenci. Bahkan Allah sudah mengingatkan. “Jangan kau terlalu membenci sesuatu karena bisa jadi ia baik bagimu, dan jangan kau terlalu menyukai sesuatu karena bisa jadi ia tidak baik bagimu.”

Karena cinta-Nya tak pernah berbatas
Karena rahman dan rahim-Nya tak pernah diharap berbalas















1 comment:

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...