Sunday, 8 January 2017

Arah (?)

Hai readers :) new sheet in the first 2017.

Let me tell you my really-messy-world. Apa yang kita rasakan ketika banyak hal berkelebat di kepala kita and what should we do then? I feel that messy-thing right now. Oke, cukup intermezonya. Now, let me tell you my little-deep-world inside my heart. Apa hal yang paling aku sesali di hidupku hingga saat ini? Hanya satu hal, bahwa aku tidak bersyukur dengan baik on what I’m right now. Fakta bagaimana aku sekarang ini, tidak aku syukuri dengan baik. Selalu banyak hal kupertanyakan, kuhiraukan dan kemudian aku goyah. Satu hal, karena aku tidak bersyukur dengan baik atas nikmat yang Allah berikan kepadaku selama ini. Suatu ketika aku menemukan postingan yang sangat menarik “Keraslah pada dirimu sendiri, jangan sekali-kali kau melunak karena sungguh kau akan merugi nantinya.” Sepertinya aku mengerti sekarang ini, sekali saja aku mengingkari prinsip yang aku buat, maka penyesalan itu lebih besar dari sekadar memulai pengingkarannya dan akan selalu begitu. Syukur itu bunga jiwa. Dan itu benar sekali. Namun itu baru kusadari detik-detik ini. Apa ini terlambat? Apa Allah masih membuka mintu maaf-Nya kepadaku? Apakah syukurku yang setelah ini akan diterima? Astaghfirullah, kenapa masih harus ditanya. Allah Maha Segala-galanya, jika kau bisa mengahayati hal itu.
Mengenai hal yang paling aku sesali dan aku belum bisa menemukan jalan keluar hingga saat ini adalah awalnya aku pernah menyesal telah terlahir sebagai wanita. Sekejap langsung aku beristighfar. Itu adalah hal terbodoh yang pernah aku pikirkan. Seorang muslimah sangat mulia di mata Islam. Lantas kenapa aku menyesal? Penyesalan itu terjadi ketika aku mulai menatap dunia semakin jauh, kemudian banyak hal diluar kendaliku terjadi. Dan satu hal yang paling menyakitkan adalah aku hanya bisa diam. Diam. Bagaiamana kita tidak bersedih ketika hanya mampu diam kala menatap banyak kerusakan terjadi dan itu karena wanita. Aku sadar, aku pun seorang wanita. Dan aku juga sangat jauh dari harapan agamaku. Tapi aku pernah belajar dan masih menyimpan kuat bagaimana menjadi seorang wanita/muslimah seharusnya.

Pada suatu pagi, ada ilmu berharga yang kuperoleh dari seorang kolega. Ia sempat membagi sedikit kehidupannya denganku “Naj, sebenarnya aku ingin berproses di banyak hal dengan baik. Namun, kau tahu sendiri lah aku memiliki seorang teman wanita sekarang ini. Tapi aku tahu bahwa dia sangat menghambat diriku di semua prosesku.” Kalimatnya sungguh menohokku sebagai seorang wanita. Bagaimana tidak? Wanita yang seharusnya bisa menjaga dirinya dengan baik, sang kolegaku justru mencabik-cabik harga diri seorang wanita di depanku. Bukan salah ia berkata begitu, ia hanya bercerita dan aku hanya cukup mendengar. Namun ternyata satu kalimat itu sangat membekas di benakku hingga saat ini. Ada apa dengan generasi Hawa saat ini? Ada apa dengan muslimah saat ini? Ada apa dengan saudari-saudariku. Dan ada apa dengan diriku? Seketika muncul pemikiran bodoh itu. “Kenapa aku terlahir sebagai wanita?” Astaghfirullah. Karena tak ada secuil pun yang bisa aku ubah dari semua itu. Tidak ada. Sejauh ini aku hanya menonton. Terduduk lusu tanpa pemikiran apapun. Hanya terdiam meratap. Merana dan gulana. Ah, betapa mengerikan penghujung dunia ini.

Penyesalanku tak cukup disitu,  semakin au menyelami dunia dan lingkunganku semakin saja sakit hati ini. Ah, di saat aku dan sekelompok muslimah lain berusaha berhijrah dengan menjaga yang harus dijaga, aku harus mengetahui banyak fakta yang berlawanan. Betapa menyakitkan ketika melihat seorang muslimah yang sudah tahu posisi dan kedudukannya bersedia menjual hal ‘yang tak seharusnya’ dengan seseuatu yang tak ada harganya sama sekali. Malu! Aku malu pada Allah. Aku takut. Betapa, yang bisa kulakukan hanya diam. Mengingat banyak istilah tentang bagaimana bertoleransi dan menghargai perbedaan. Terkadang aku berpikir “Ah, omong kosong sama itu semua. Tolernsi apa, kalau itu untuk mentolerir hukum Allah, bagaimana jika Allah murka?!” Bodohnya aku adalah karena aku terdiam. Tanpa sepatah kata peringatan. Ah, betapa hinanya aku jika demikian. Tapi aku tak bisa berbuat apapun. Sekali lagi aku hanya tergugu. Betapa lihainya setan bermain di setiap celah kehidupan anak adam. Oh, Allah betapa besar nikmat-Mu. Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku hanya menangisi diriku di setiap sudut keramaian. Menertawakan diriku yang tak sanggup berbuat apapun. Aku seorang bodoh yang semakin tersesat. Sekali lagi aku hanya menangisi diriku sendiri. Faktanya, aku belum bisa menjadi generasi Hawa yang diharapkan. Belum bisa menjadi muslimah ideal. Dan belum bisa menjadi muslimah yang mampu menebar kebaikan bagi lingkungannya. I’m nothing. Nothing.

Penulis hanya seorang bodoh yang masih berusaha belajar lebih keras.

“Don’t ever judge everything by it’s cover. And in the end, people will always judge you anyway”
See you in the next session ;)

Open for every comment and suggestion guys...

No comments:

Post a Comment

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...