Thursday, 12 January 2017

Amygdala

The second short story in this site. Hopefully, you can enjoy it well :) Happy reading guyss..


Ain merapatkan mantel biru muda yang ia kenakan, membenahi posisi topi dan memastikan telingnya tertutup rapat. Ia mengenakan sarung tangan dengan warna senada mantelnya, kemudian memasukkan tangan ke dalam saku mantel. Cukup hangat. Suhu di Helsinki sangat dingin, mencapai -200C. Salju yang menyelimuti, membuat Helsinki-kota dengan arsitektur yang fantastik-semakin cantik-di puncak musim dingin ini. Ain baru saja keluar dari stasiun dan bergegas menuju Helsinki Central Library yang terletak di pusat kota. Desember di Finlandia merupakan puncak suhu paling rendah musim dingin. Finlandia merupakan negara yang terletak dekat dengan kutub utara. Sehingga ketika musim panas akan terasa sangat panas, dan ketika musim dingin akan terasa sangat dingin, seperti sekarang ini.

Setibanya di perpustakaan Ain melepas mantel, topi dan sarung tangan serta meletakkan ke lemari penitipan. “Moi, Hietamaki! Hyvaa paivaa!” seperti biasa, ia menyapa Hietamaki-penjaga perpustakaan yang sudah menghafal jam kunjung Ain di perpustakaan ini. Hietamaki membalas sapaan Ain dengan senyuman “Hyvaa paivanjatkoa, Aina!”

Ain menyukai perpustakaan ini. Selain tenang, perpustakaan ini bersih, nyaman, serta tertata dengan teratur. Tujuan Ain menyita waktunya disini adalah untuk memenuhi data tesisnya. Ain adalah mahasiswa pascasarjana Helsinki University jurusan Filsafat Pendidikan. Ia mencintai pendidikan. Ain memiliki sense of education yang luar biasa, terlebih ia akan menyelesaikan program pascasarjananya ini di usia yang ke 20 tahun. Oleh karena itu, dua paper terakhir Ain mendapat nilai all-outstanding. Ain gadis dengan dua lesung di pipinya merupakan gadis yang menyenangkan. Ia menyukai anak-anak. Tak jarang ia sering berkunjung ke taman untuk bermain bersama mereka. Ia juga seorang pemusik yang baik. Selain pandai bernyanyi, Ain juga pandai bermain beberapa alat musik. Tak jarang Ain membawa pianika ketika bermain bersama anak-anak. Selain taman, tentunya perpustakaan adalah bagian terfavorit Ain dari Helsinki-Ibu Kota Finlandia ini.

Helsinki Central Library adalah satu dari sekian perpustakaan yang ada di Kota Helsinki. Perpustakaan ini sudah menjadi tempat kesukaan Ain untuk menghabiskan waktunya semenjak kedatangan perdananya di Finlandia 2 tahun silam. Cukup dengan melihat arsitektur gedung perpustakaan ini, Ain tahu persis bahwa di dalamnya akan sangat nyaman dan menyenangkan. Hal itu terbukti setelah kunjungan pertama Ain dalam rangka menikmati musim dingin pertamanya-juga 2 tahun silam. Perpustakaan ini tidak seperti perpustakaan pada umumnya, Helsinki Central Library memiliki banyak ruang untuk membaca dan belajar. Selain itu banyak ruang untuk meningkatkan skill audiovisual. Bahkan taman perpustakaan juga digunakan untuk taman baca, dimana kita bisa berdikusi dengan pengunjung yang lain. Perpustakaan ini bersih. Kesadaran pengunjung akan kebersihan sangat tinggi. Sehingga petugas tidak perlu mengingatkan untuk membuang sampah dan menjaga kebersihan. Ini perpustakaan yang luar biasa. Batin Ain saat kunjungan pertamanya.

Hari ini Ain akan melengkapi data tesisnya tentang filsafat pendidikan. Ia merujuk pada pandangan salah satu tokoh filsuf Islam yaitu Al Ghazali. Ia yakin, bahwa biografi tentang tokoh itu ada di perpustakaan ini. Ia menelurusi lorong biografi. Menurut dosen pembimbingnya, Al Ghazali memiliki pemikiran yang istimewa tentang pendidikan. Ia terus menelusuri hingga tiba di ujung lorong. Ujung lorong ini sudah bukan lorong biografi, namun Ain menemukan sesuatu yang seketika menawan hatinya. Ia menemukan sebuah buku dalam bahasa Inggris yang berjudul “Letter to Son-adapted from Risalatu AL Walad : Al Ghazali” Belum sempat Ain mengambilnya, seorang laki-laki dari belakang Ain mengambil buku tersebut. Sontak Ain terkejut dan memaksa merebut “Buku ini milikku!” sergah Ain sambil menunjuk buku yang sudah berada di tangan laki-laki itu. Ain lupa bahwa ia memekik dalam Bahasa Indonesia.

“Bagaimana mungkin? Aku mengambilnya lebih dulu. Kau hanya diam dari tadi.” Lelaki itu menjawab dengan nada sedikit memprotes.

You are Indonesian, aren’t you? You speak in Indonesia. Hei, kumohon berikan buku itu, sudah setengah jam lebih aku memeriksa hampir tiga lorong perpustakaan ini, dan sekarang kau mengambil bukunya?”

“Kenapa kau menyergahku? Berhubung ini ruang tengah kita tidak bisa bercengkrama disini. Ayo kita ke taman.” Lelaki tersebut menggandeng lengan Ain begitu saja. Alih-alih menolak, Ain mengikutinya. “Nah, ini tempat yang baik. Jadi aku akan mulai menjawab pertanyaanmu.” Ucap lelaki itu sambil membenarkan posisi duduknya. Sekarang mereka berada di taman baca, karena ini Finlandia pengunjung akan mendapat satu cangkir kopi gratis ketika memasuki taman baca. “Pertama, bukan berarti orang yang bisa berbahasa Indonesia adalah orang Indonesia.” Ia menyesap kopinya. “Kedua, aku mengambilnya terlebih dahulu, sedangkan kau hanya diam. Bagaimana mungkin buku ini milikmu? Hei Nona, sepertinya kau belum minum kopi hari ini.” Lelaki tersebut menutup kalimatnya dengan tertawa dan kembali menyesap kopi panasnya.

Dia orang gila. Sudah pasti ia gila. Ain tersadar bahwa jika ia menanggapi pasti akan panjang dan tentu akan menyita waktunya. “Jika kau tidak ingin memberikannya, baiklah. Aku bisa cari yang lain. Dan sudah jelas kau orang Indonesia. Aksen jawamu terlihat jelas dalam berbicaramu. Terima kasih.” Ain beranjak meninggalkan lelaki itu dan cangkir kopinya. Namun, batal. Lelaki itu kembali menggenggam tangan Ain dan memaksanya untuk duduk. “Apa-apaan ini?” protes Ain.

“Aina Russelia. Mahasiswa pascasarjana Helsinki University jurusan Philosophy of Education. Mahasiswa terbaik di bawah bimbingan Dr. Kalevi, sedang menyusun tesisnya tentang studi filosofi pendidikan ilmuwan timur tengah, asli dari Semarang, ...” belum selesai lelaki tersebut melanjutkan kaimatnya Ain menyergah “Bagaimana mungkin, kau mengenal begitu baik siapa aku? Kau membuatku merinding.”

Ain mengurungkan niatnya untuk beranjak. Lelaki ini aneh. Bagaimana ia hampir tahu detail tentang Ain. “Wait, let me drink my coffee!” Ain kembali duduk.

For sure, Nona!” lelaki itu mempersilahkan Ain duduk dan meminum kopinya.

Oke, I’ll let you tell me the truth about who you are, where you from, and everything.” Kali ini Ain berkata dengan lebih tenang. Lelaki ini tentu ada kaitannya dengan dirinya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja kau menarik. Namamu menggema di seluruh penjuru Helsinki University kau tahu. Baru saja aku membaca profilmu, dan aku bertemu denganmu dalam keadaan kau mengaku buku yang sudah kuambil terlebih dahulu. Ini cukup menarik. Akhirnya aku bertemu anak Dr. Kalevi yang luar biasa. Bisa berbincang empat mata lagi.” Jelasnya.

“Apa katamu? Jadi kau hanya mempermainkanku. Untung saja aku masih memaafkanmu, sekali lagi kau menggangguku, lihat saja nanti.” Ain sungguh kesal. Ternyata bukan apa-apa. Jadi benar, lelaki ini menyita waktunya. “Baiklah, aku pergi.”


Sebelum beranjak untuk kedua kalinya, “Kau benar-benar melupakanku, Ain.” Kalimat laki-laki itu membuat Ain membatalkan niatnya untuk kedua kalinya. Kenapa ia memanggilku dengan Ain? Apa ia benar-benar mengenalku? Dan kesekian kalinya Ain membatin.

“Kita harus segera keluar dari sini. It will be closed in five minutes.” Ain memutuskan untuk kembali ke ruang tengah perpustakaan. Lelaki tadi mengikuti dengan sedikit bergumam, entahlah apakah Ain mungkin mendengarkan atau tidak. Mereka harus segera keluar. Jam kunjung perpustakaan selesai.

 “Hietamaki, I get nothing. I may come back tomorrow. Nӓhdӓӓn huomenna!” selesai mengenakan mantel dan seperangkatnya, Ain segera meninggalkan Helsinki Central Library.
  “Kiitos, Aina. The door will always open for you!” Hietamaki melambaikan tangan kepada Ain. Lelaki tadi pun melakukan hal yang sama pada Hietamaki. Mereka juga seperti sudah saling kenal. Lelaki tadi segera mengikuti Ain.

  Ain sudah cukup jauh ketika lelaki itu keluar. Ia berlari dan mendapatkan lengan Ain untuk kesekian kalinya. “Energimu sungguh besar sebagi seorang wanita. Kau sudah cukup jauh.”

 “Karena aku bisa mati membeku jika aku tidak mempercepat langkahku.” Ain hampir lupa soal laki-laki ini. “Kau tahu, -200C cukup untuk membunuhmu dalam sekejap.” Mau tidak mau, Ain harus menanggapi lelaki itu. “Ikuti aku!” Kali ini Ain berjalan lebih cepat,  memimpin di depan. Ia sudah berencana mampir ke kedai kopi Ingria. Finlandia adalah negara pengonsumsi kopi terbesar di dunia. Lima gelas kopi per hari bagi setiap orang. Tak heran jika banyak kedai kopi di sudut-sudut jalan. Apalagi di tepian kota. Kedai kopi bisa jadi sangat besar dan banyak. Ingria dan Ain adalah teman. Sejak pertama kali bertemu di perpustakaan mereka berteman, dan Ain akan mampir ke kedai kopi Ingria sepulang dari perpustakaan. Selalu demikian.

 “Ainaa! I’m sure it’s you. Before you get in, I alredy know that’s you. As usual, get your sit and I’ll bring you Vanila Latte.” Ingria sangat menyukai Aina. Begitupun sebaliknya. Aina hafal benar dengan cara Ingria menyambut kedatangannya.

 “It’s not like usual, Ingri. I bring someone.” Tukas Aina.

 “So, it should be someone special right?” Ingria berhenti menuang kopi. Tidak seperti biasanya. Aina membawa seseorang. Tapi siapa? Aina paling suka sendiri di sore hari seperti ini. Ingria mengantar cangkir Latte Aina. “So, who is this?” Ingria heran. “Moi! He’s a man! Oh, anteeksi Aina. I will not disturb. Today you will have a coffe with this man.” Ingria tahu benar, bahwa Aina datang kemari bukan untuk minum kopi bersamanya. Namun laki-laki itu. “Oh, wait. Sir, what do you like to drink?

 “Give me Moccha, please! Kiitos.” Lelaki itu sudah duduk dengan baik di depan Aina.

 “Let me drink my Latte first!” pinta Aina.

 “Minum saja sebelum kau membeku.” Ia bercanda.

 “What do you say? Ah, sudahlah abaikan saja. Boleh aku langsung ke poinnya? Jadi, apa kita saling mengenal sebelumnya?” sergah Aina.

 “Kau pernah mencintaiku.” Jawab lelaki itu. Ain tersedak. Jelas ia kaget. Jawaban macam apa itu? Ain terbatuk-batuk, kesulitan mencari lap. “Kau tidak perlu sekaget itu. Ini. Gunakan milikku.” Ia memberikan sapu tangannya kepada Ain. “Jika kau benar-benar tidak mengingatku, minun nimeni on Rahman. Ahmad Rahman.” Rahman terdiam sejenak, berusaha mengatur kalimat yang akan ia keluarkan selanjutnya. Sementara Ain masih sibuk membersihkan bekas kopi yang ada di bajunya. “Ain, kau benar-benar telah melupakanku dengan baik. Tapi tak apa, sejauh ini yang aku tahu Amygdalamu masih berfungsi dengan baik.”

 “Kau tahu, ini sungguh membingungkan. Kenapa aku pernah mencintaimu? Memangnya siapa kamu? Dan kenapa... kenapa semua ini bisa seperti ini? Apa yang terjadi denganku?” Rasa kaget Ain sudah mereda. Namun ia tak mengerti atas apa yang telah terjadi.

  “Sudahlah, tak usah kau pikirkan. Yang penting aku sangat senang bisa melihatmu lagi. Dan kau sudah menjadi sosok yang luar biasa.” Kata Rahman.

  “Kenapa kau berucap seolah kau dan aku mengenal dengan baik satu sama lain?” tanya Ain dengan masih merasa bingung.

   “Aku sedang melaksanakan penelitian doktoralku di bawah bimbingan Prof. Radev di Helsinki University, aku baru tiba tiga hari yang lalu. Dosenku yang merekomendasikanku kesini. Paper Prof. Radev sangat sesuai untuk menunjang data-data penelitianku. Kupikir ini menjadi kesempatan yang baik untuk bertemu denganmu. Dan memang, tak susah menemukanmu.” Jelas Rahman panjang lebar.

  “Kenapa tak ada satu pun pertanyaanku yang kau jawab?” protes Ain. Karena Ain berpikir, Rahman mulai menyebalkan. Bukan hanya Rahman, tapi ia juga sebal pada dirinya sendiri yang tak mengetahui apapun.

  “Tapi bagusnya, kau menyimakku dengan baik. Terima kasih kopi dan waktunya Ain. Aku akan menemuimu besok. Ini nomor telponku. Nӓhdӓӓn huomenna!” Rahman meninggalkan secarik kertas dengan deretan angka di atasnya. Kemudian ia bergegas meninggalkan Ain dan Lattenya yang sudah mulai dingin. Ain yang benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Rahman melambaikan tangan kepada Ingri “Kiitos, Ingria! Herkullinen-I mean the Moccha. Nӓhdӓӓn huomenna!”

  Setelah menutup pintu untuk Rahman, Ingria segera menghampiri Ain. “So, who is the handsome man last time, Ain? Don’t you let me know?” Ingria duduk di depan Ain, menggantikan posisi Rahman.

 “I also don’t understand what actually happend here. He’s such a crazy people.” Ain mengacak rambutnya, berusaha berpikir keras. Namun ia tak mendapatkan apapun. Nothing. Ia menyadari Rahman meninggalkan sapu tangannya. Ah, kenapa ia meninggalkan jejak? Bahkan ia meninggalkanku nomor telponnya.Do you know, Ingri. I’ve just met him last time in Central Library. But he knows everything about me.”

Perfectly secret admirer!!” Ingria tertawa terbahak. “Finally, you meet someone. Don’t tell me that you fall in love with him.” Goda Ingria kepada Ain. “You both are perfect.

 Bahkan Rahman berkata bahwa Ain pernah mencintainya. Ah, Ain semakin kalut. Ia memutuskan segera kembali ke HOAS-student apartement milik Helsinki University. Setelah cangkir lattenya bersih, ia berpamitan kepada Ingria.

***
 Halo, Ma! Apa mungkin aku mengenal seorang pemuda yang bernama Rahman?

 Cukup satu tanda tanya saja membuat Mama Ain terdiam di ujung teleponnya. Ia berpikir apakah ingatan Ain bisa pulih, setelah vonis dokter bahwa Amnesia Lakunar sangat kecil kemungkinanya untuk ingatan itu kembali. Ketika SD itu terbakar, dan Ain sedang mengajar waktu itu. Selesai evakuasi, Ain ditemukan tak sadar diri. Sesegera mungkin Ain dibawa ke rumah sakit. Selesai pemeriksaan dokter menyampaikan bahwa kondisi Ain tidak baik. Ia mengalami kekurangan oksigen yang parah sehingga menyebabkan sistem limbiknya terganggu. Dan kala itu juga dokter memvonis bahwa Ain menderita amnesia. Amnesia lakunar. Kehilangan memori secara acak dan kemungkinan otak memiliki kelemahan untuk mencerna hal-hal baru di kehidupan berikutnya.

Dua hari berikutnya, Ain tersadar. Ia merasakan sakit yang sangat di kepalanya setelah terbangun. Mama dan ayah Ain sudah sangat ketakutan. Apa kemungkinan yang akan terjadi setelah Ain terbangun. Namun bangunnya Ain dari keadaan sebelumnya adalah pemberian yang sangat besar. Ain mengingat semua keluarganya dengan baik. Namun ia lupa dengan SD, anak didiknya, dan satu orang istimewa yang lain-Rahman. Sehari sebelum kebakaran itu, Rahman sudah melamar Ain. Bahkan dua minggu kemudian adalah tanggal pernikahan mereka. Berdasarkan keputusan kedua keluarga, dan pengertian serta kesabaran Rahman, pernikahan itu tidak terjadi. Rahman tahu, hal terbaik adalah membiarkan Ain pulih, menjalani terapi dan semua akan kembali. Rahman memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang doktoral di Jogja. Tentu sebuah keputusan yang berat untuk meninggalkan Semarang. Namun ia percaya ini yang terbaik.

Sementara setelah Ain pulih, ia tidak perlu terapi. Karena sistem limbik yang terganggu, justru memberikan efek lain pada Ain. Hal ini menyokong Amygdala berfungsi dengan sangat baik. Otak tidak mengalami kesulitan mencerna hal baru namun sebaliknya. Ini sungguh hikmah yang luar biasa. Ain memperoleh beasiswa ke Finlandia setahun kemudian untuk melanjutkan studi masternya.

Mama Ain tak memberi jawaban yang memuaskan. Ain semakin putus asa. Siapa pemuda bernama Rahman ini? Ain masih berpikir keras.

***
“Temui aku di kantin ruangan Dr. Kalevi jika urusanmu belum selesai. Dalam lima menit kau tidak datang, aku pergi.” Pesan singkat Ain kepada Rahman.

Sejurus kemudian, Rahman sudah menempati salah satu kursi di kantin. Bahkan ia datang lebih awal. Ia melambai kepada Ain ketika ia memasuki pintu kantin. “Bukan aku yang belum selesai Ain, tapi kau yang ingin menemuiku.” Rahman membawakan secangkir Latte untuk Ain.

“Apa?? Kenapa kau selalu membuatku merasa bodoh?” Protes Ain.

“Di antara kita memang belum pernah selesai Ain.” Rahman membuka tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto. “Apa kau tahu foto apa ini?”

 Ain memeriksa foto-foto itu. “Ini bangunan sekolah dasar, bukan?” ia melanjutkan untuk memeriksa foto yang lain. “Lantas apa hubungannya denganku?”

“Kau benar-benar tidak mengingatnya Ain? Kau guru kesayangan mereka Ain. Lanjutkan hingga foto terakhir.” Tuntun Rahman pelan.

“Eh, kenapa bisa ada aku di foto ini?” tanya Ain semakin bingung.

“Aku tidak ingin menyinggung hal ini, tapi aku harus. Apa kau masih ingat insiden terakhir yang kau alami?” Rahman nampak serius.

 Ain berpikir keras. Apakah mungkin insiden sebelum aku terbangun di rumah sakit?

“Tenang Ain. Kau tidak perlu berpikir keras. Yang penting semua yang terjadi memberi hikmah yang besar untuk kehidupan kita sekarang ini. Selama amygdalamu masih berfungsi dengan baik, tak akan merubah apapun yang harusnya terjadi sebelumnya.” Rahman semakin membingungkan.

“Tunggu sebentar. Kenapa dari kemarin kau menyebut kata yang asing bagiku, apa itu Amygdala?” Ain bertanya.

“Anak didik Dr. Kalevi tidak tahu amygdala? Ia adalah pusat kendali rasa dan emosi yang ada di otakmu Ain.” Jelas Rahman.

“Oh, demikian. Sepertinya aku harus mengenalmu lebih jauh, Rahman!” ucap Ain. Giliran Rahman tersedak. Sekarang Ain tahu, amygdalanya benar-benar berfungsi masih dengan sangat baik. Amygdala-hal ini yang membuat Ain pada akhirnya mengirim pesan singkat ke pada Rahman tadi.

Ain menatap Rahman dengan senyum itu. Senyum yang Rahman tunggu setiap hari bergulir. Senyum yang membuat dua lensung di pipi Ain semakin terlihat jelas, tentu membuat Ain semakin cantik. Dan mata itu, mata yang masih tetap teduh seperti dulu. Tak ada yang berubah dari Ain. Pun demikian pada Rahman. Tak ada yang berubah dari Rahman. Ia tetap mencintai Ain. Tak perlu Ain, kau sudah mengenalku dengan baik. Dengan sangat baik. Rakastan sinua.

***

Apa alasan ayah dan mama Ain tidak memberi tahu hal yang sebenarnya terjadi? Karena mereka percaya, Tuhan sudah sangat baik kepada Ain. Karena mereka tahu bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Jalan yang tak pernah diduga. Ketika amygdala yang dimiliki manusia bekerja dengan baik, maka segala rasa pada manusia akan tetap ada.



Finally, the story is done. Kritik, saran, komen, tanggapan is free di kolom bawah yaa :) Thanks for reading. Semoga bermanfaat. Berikut daftar istilah yang digunakan dalam cerita. Beberapa istilah dalam bahasa Finlandia dan bahasa latin

1. Russelia : Kata kedua pada nama Ain berasal dari bahasa latin Russelia, adalah nama genus dari bunga air mancur
2. Rakastan sinua : aku mencintaimu
3. Nӓhdӓӓn huomenna : sampai jumpa
4. Kiitos : terima kasih
5. Anteeksi : permisi, maaf
6. Herkullinen : lezat, nikmat
7. minun nimeni on : perkenalkan, namaku..
8. Hyvaa payvaa : selamat siang
9. Hyvaa paivanjatkoa : semoga harimu menyenangkan
10. Moi : Hai, halo


Cerpen ini diterbitkan dalam antologi cerpen Seribu Wajah di Balik Lensa oleh Penerbit Jendela Sastra Indonesia

1 comment:

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...