Thursday, 13 October 2016

Perkusi Joyo Pranoto

Bertahan tanpa alasan memang tidak pernah mudah
Namun melepaskan juga bukan sebuah hal yang mudah
           
            Setiap keping memori kala itu masih melekat dengan baik. Tersimpan rapi di memorangium salah satu lobus otakku. Lebih gembira lagi setiap kedua ban sepedaku menapaki Joyo Pranoto. Perkusi-perkusi menyambutku dengan sukacita. Kemudian, senyumku melengkung indah. Kemudian, ingatan mulai melambung. Kepingan film-film di otakku mulai berputar. Mengulas satu persatu kejadian yang kualami seharian ini, bisa jadi kejadian kemarin, sehari yang lalu, ataupun hari itu. Ya, hari itu. Kepingan film-film otakku tak ada lelah memutar kejadian hari itu.
            Joyo Pranoto dan perkusinya. Mengusik indah kegiatanku untuk sejenak menikmati perkusi-perkusinya. Semakin deru perkusi melambung ke langit, semakin memaksaku untuk sejenak terdiam, merenung. Oh, bukan. Tapi memaksaku menyelami kembali setiap kejadian di masa lalu.
            Joyo Pranoto dan perkusinya. Oh, nadanya membelai indah hari-hariku kala itu. Bahkan ia bagaikan endorphine yang disekresikan ke semua ruang hatiku. Perkusi itu membawa angin riang ke semua penjuru Joyo Pranoto.
Joyo Pranoto dan perkusinya. Dulu dan sekarang memang tak pernah sama. Perkusi yang dulu, begitu pula perkusi yang sekarang. Senandungnya tak pernah sama. Jika dulu senandungnya membelai indah angan-anganku. Maka sekarang senandungnya menyayat indah setiap inci hatiku. Sakitnya tak menguap. Namun sakitnya membeku. Merusak perlahan sel-sel tubuhku. Hingga, saraf mulai enggan menanggapi impuls yang datang. Aku mati rasa. Tak kuasa hatiku terbuka untuk perkusi yang lain. Karena membuka begitu sulit, sedang jatuh begitu sakit.
Joyo Pranoto. Kemudian di hari ini, aku harus bagaimana? Deru perkusimu tak pernah padam. Namun aku? Suatu saat mendengar alunan nadamu, satu sisi diriku ingin abai. Sedang yang lain ingin menikmati. Menikmati rasa sakit yang tak kunjung usai, ataupun menikmati sisa-sisa nada indahmu.

Ternyata aku harus usai. Tapi perkusimu masih terus menderu. Ternyata aku harus selesai. Tapi aku masih tetap tergugu.

No comments:

Post a Comment

Bicara Kehidupan #Tentang Memberi

Bonus Pic : Taken in Johor, Malaysia. Selalu ada makna tersendiri dari setiap gambar. Memberi bukanlah menawarkan pemberian So...