Saturday, 7 May 2016

Sesederhana Melihat Mereka

Bersama mereka adalah segalanya untuk saat ini. Betapa tidak? Setumpuk tugas ataupun berlembar-lembar kertas ujian terlupa. Segudang gundah juga seperti sirna. Ya, mereka. Anak-anak benar meluluhkan. Mereka bagaikan vitamin ketika aku benar-benar lemas hari itu. Lelah setelah menyelesaikan perkuliahan. Tapi semangat itu membuncah tiba-tiba hanya dengan mendengar suara mereka.

"Bu Nana!" seru mereka ketika aku bahkan baru saja hendak melepas sandal usangku. "Bu.. Ayo jalan-jalan. Bu Nana kan sudah janji kalau hari Jumat kita jalan-jalan." seru beberapa dari mereka. "Iya Bu.." sambung yang lain.Betapa lucunya. Sekaligus mereka membuatku teringat janjiku minggu lalu. Melihat antusiasme mereka yang tinggi dan wajah mereka yang berbinar-binar, tak tega hati ini menolak keinginan mereka. Lagipuala tak ada salahnya jalan-jalan. Sambil refreshing juga. "Boleh kalau Bu Nana ada temannya. Kalau ngga ada kita ngaji, oke?" tawarku. Nampaknya tak berhasil, wajah ceria mereka berganti kesal. "Kok gitu Bu. Bu Nana kan sudah janji sama kita, iya kan?" jawab salah satu dari mereka. "Hmm...Gimana ya?" aku sedikit bergeming. "Bu, saya panggil Pak Ustadz ya?" tanya mereka, saking keinginan mereka yang besar. "Iya, boleh."

Sebelum aku menutup kalimatku, mereka sudah berlari keluar musholla menuju rumah Pak Ustadz. Ya, ada beberapa pengajar di TPQ itu. Beberapa saat kemudian, Pak Ustadz itu datang. Dan ustadzah yang menjadi pengajar tetap di musholla ini mengizinkan kami jalan-jalan setelah menyampaikan beberapa persayaratan. Dari bagaimana perjalanan kesana, peraturan kalau sudah di tempat, dan lain sebagainya. 

Sepanjang perjalanan kami, sholawat senantiasa mengiringi. Mereka melantunkan sholawat dengan senyuman indah mereka. Jujur, hatiku serasa di ambang kebahagiaan. Senangnya membuncah. Tiba di lokasi-sebuah gazebo-yang cukup luas, kami duduk dan melingkar ke arah sang ustadz. Ia mengajak mereka berdiskusi. Satu pertanyaan, "Apa cita-cita kalian?" Pertanyaan ini sungguh memancing mereka untuk aktif menjawab. Mereka berlomba-lomba mengangkat tangan. "Saya Pak, saya!" 

Betapa cerah sore ini. Antusiasme mereka menyadarkanku, banyak hal di dunia yang tak bisa diganti dengan sebuah kebahagiaan. Bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana senyuman. Sesederhana langkah kaki bersama. Sesederhana, melihat mereka bermain, bahkan sesederhana melihat mereka berebut menjawab pertanyaan.

Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah, Yang Maha Pemberi Kebahagiaan.

No comments:

Post a Comment

Playing As Victim

[Playing as Victim] Hai Sahabat Inspirasi:) jumpa lagi dengan saya, hehe. Udah pada nggak asing dengan istilah diatas? Atau masih ada ya...