Posts

Showing posts with the label flash

Perkusi Joyo Pranoto

Bertahan tanpa alasan memang tidak pernah mudah Namun melepaskan juga bukan sebuah hal yang tak susah                         Setiap keping memori kala itu masih melekat dengan baik. Tersimpan rapi di memorangium salah satu lobus otakku. Lebih gembira lagi setiap kedua ban sepedaku menapaki Joyo Pranoto. Perkusi-perkusi menyambutku dengan sukacita. Kemudian, senyumku melengkung indah. Kemudian, ingatan mulai melambung. Kepingan film-film di otakku mulai berputar. Mengulas satu persatu kejadian yang kualami seharian ini, bisa jadi kejadian kemarin, sehari yang lalu, ataupun hari itu. Ya, hari itu. Kepingan film-film otakku tak ada lelah memutar kejadian hari itu.             Joyo Pranoto dan perkusinya. Mengusik indah kegiatanku untuk sejenak menikmati perkusi-perkusinya. Semakin deru perkusi melambung ke langit, s...

Hati Yang Sakit

Ketika rumah bukan lagi sebagai tempat kembali terbaik. Ketika rumah tak lagi terasa seperti surga. Hendaknya saat itulah hati mulai sadar. Bahwa hati ini sudah terinfeksi begitu dalam. Digerogoti penyakit-penyakit mematikan. Hingga tak lagi ada bahagia, tak lagi ada kasih terlebih rasa sayang. Seberapa lama rumah itu akan bertahan? Lihat saja, satu dua hari kedepan-oh bukan-satu detik kedepan saja rumah itu akan ambruk, roboh, hancur berantakan. Tak adalagi cinta yang menguatkan tiang-tiangnya. Hanya iri dengki yang tersisa. Dan amarah yang mengisi ruangannya. Ketika sakit hati namun hati itu ikhlas memaafkan maka tak akan pernah ada hati yang sakit hingga merintih. Tak akan ada infeksi lebih lanjut. Jikalau saja, hati itu ikhlas memaafkan maka rumah itu masih menjadi surga. Hanya saja, hati itu sudah terinfeksi teramat sangat oleh penyakit iri dengki dan dusta. Sehingga, bukan lagi surga namun rumah serasa neraka. Na'udzubillah. Sesungguhnya seorang muslim dengan muslim yang ...

Gerimis Bulan Oktober

Image
Denting di sudut kamar   ini semakin memanduku menyelami berlembar-lembar skrip drama untuk pentas seni daerah besok lusa. Menyelami tapi tak memahami. Tak ada satu dialog pun yang berhasil direkam oleh otakku. Anganku melayang. Sedang jiwaku tak ada disini. Ruangan ini berhasil kusulap menjadi ruang hampa. Aku pasrah. Skrip itu kulempar begitu saja ke lantai kamarku. Aku bersandar ke kaki ranjang. Kemudian termenung menghadap arah luar jendela. Angin melambai-lambai. Semakin waktu berlalu, angin pun semakin kencang. Memeluk kuat hingga dingin menusuk tulang. Nampaknya hujan akan segera turun. Membasahi dataran yang sudah keronta beberapa bulan ini. Juga membasahi sudut-sudut ruang hatiku. Ah, sudah lama hujan tak turun. Nampaknya, aku merindui rintik-rintik air langit itu. Akhirnya kumulunimbus pun pecah. Memuntahkan beberapa volume air langit. Sepertinya hujan rintik. Gerimis. Ah, gerimis.             Gerimis Bulan Ok...

Ketika Semuanya Terkisah

What a Day!! Should I turn back? Sampai detik manakah aku harus berbalik? Hahaha...jika aku sanggup. Bahkan aku tak pernah tahu apakah aku sanggup hanya untuk menatap masa depanku. Semuanya begitu rumit. Terlalu rumit bagi sebuah kisah seorang remaja yang harus bersiap menapaki kedewasaan. Apakah memang harus serumit ini? Bukan hanya rumit bahkan mereka juga semu. Aku memang tak pernah tahu kapan perasaan itu ada. Yang aku tahu perasaan itu tak pernah sirna walau waktu banyak berlalu. Bahkan aku juga tak tahu dari mana kekuatan itu sehingga aku bisa bertahan hingga usia ini. Biarlah perasaan itu terpendam. Kuharap ia tak pernah protes terhadapku yang bersikeras memendamnya. Yang kutahu semua akan menjadi lebih rumit jika itu terungkap. Perasaan itu terungkap. Biar saja semua mengalir apa adanya, hingga semua indah pada waktunya. “Hey! sampai kapan kau terus seperti ini?” tanya Kania tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Apanya yang seperti kau maksud Kani?” tanyaku balik berpura-pu...